Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kios Jamu Masih Banyak DitemuI di Berbagai Tempat di Yogyakarta; Hadir Berbagai Racikan Baru Hasil Inovasi

Fahmi Fahriza • Minggu, 3 Mei 2026 | 08:45 WIB
GENERASI KEDUA: Kios jamu tradisional Pak Pri yang berada di area Kasihan, Bantul. Fahmi Fahriza/Radar Jogja
GENERASI KEDUA: Kios jamu tradisional Pak Pri yang berada di area Kasihan, Bantul. Fahmi Fahriza/Radar Jogja
JOGJA - Di tengah maraknya minuman modern, kios atau depot jamu tradisional masih memiliki relevansi dan pangsa pasar tersendiri.
Kini masih banyak ditemui kios jamu, baik di kota maupun di daerah pinggiran Yogyakarta.
Salah satu kios jamu tradisional itu adalah Pak Pri di area Kasihan, Bantul. Usaha yang telah berdiri sejak 1971 ini menjadi bukti bahwa tradisi lama masih memiliki tempat di tengah perubahan zaman.
Siti Sofa, generasi kedua sekaligus penjual jamu ini mengungkapkan, kios awalnya dirintis oleh ibu mertuanya yang berjualan secara keliling.

Baca Juga: Pemkab Gunungkidul Tawarkan Investasi Garmen Rp 51,6 Miliar di Semin, Bidik Pasar Ekspor

Dengan cara sederhana, mulai dari digendong hingga menggunakan sepeda. Usaha itu perlahan berkembang hingga memiliki tempat tetap seperti sekarang.
"Pertama ibu mertua jualan itu digendong, terus pakai sepeda. Dulu jamu belum banyak, malah yang beli sampai rombongan," ujar Siti Sofa, Jumat (24/4/2026).
Sebagai generasi kedua, Siti Sofa melanjutkan usaha ini sejak menikah sekitar 33 tahun lalu. 
Ia belajar langsung dari ibu mertua dan suaminya, yang sejak muda sudah mendampingi usaha keluarga tersebut.

Baca Juga: Sekolat Pertanian Bantul Tak Hanya Sasar Siswa di Sekolah, Rencananya Bakal Menyasar Pemuda di Lingkup Kapanewon

Seiring perkembangan waktu, variasi jamu pun bertambah. Jika dulu hanya tersedia jenis dasar seperti kunir asem dan pegal linu, kini hadir berbagai racikan baru hasil inovasinya.

"Dulu cuma kunir asem, pegal linu, paitan. Sekarang saya tambah sendiri, ada temulawak, kunir asem gula, sama racikan lain," katanya.

Tak hanya dari sisi produk, perubahan juga terlihat pada cara pemasaran. Jamu yang identik dengan tradisi kini telah masuk ke platform digital seperti GoFood dan Grab Food sejak beberapa tahun terakhir.

"Pas awal-awal ada Gojek langsung daftar. Sekitar 2017 atau 2018 sudah mulai jualan online," ucapnya.

Baca Juga: Halim Sebut Perlu Patroli untuk Cegah Kejahatan Jalanan, Akan Libatkan Polisi, TNI, hingga Jaga Warga

Usaha ini bahkan sempat viral dan menarik perhatian banyak pelanggan, terutama mahasiswa yang datang membeli dalam jumlah besar.

"Waktu viral itu dari UGM, UMY, banyak yang ke sini borong. Sampai ada yang beli kunir asem satu galon buat dibagi-bagi," lanjutnya.

Meski mengikuti perkembangan zaman, proses produksi tetap mempertahankan cara tradisional.

Bahan seperti kunyit, jahe, dan kencur diolah secara manual untuk menjaga kualitas rasa.

"Di sini jamunya murni, habis digiling langsung diperas, diracik. Nggak direbus, jadi rasanya beda, lebih kental," jelas Siti Sofa.

Baca Juga: Pilur Serentak Mulai Akhir Mei, Pengaruh Trah Masih Kuat di 31 Kalurahan Wilayah Gunungkidul

Dalam sehari, penjualan bisa mencapai lebih dari 100 gelas, tergantung kondisi cuaca. Harga yang ditawarkan pun masih terjangkau, mulai dari Rp 7.000 hingga Rp 8.000 per gelas.

"Kalau ramai bisa lebih dari 100 gelas sehari. Dari pagi sudah ada pemasukan, alhamdulillah," katanya.

Lebih dari sekadar usaha, jamu ini juga menjadi sumber penghidupan keluarga. Dari hasil berjualan, Siti Sofa mampu menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi, bahkan salah satu anaknya kini tinggal di luar negeri.

Kini, usaha tersebut mulai diteruskan ke generasi ketiga, meskipun Siti Sofa masih aktif meracik jamu demi menjaga cita rasa yang sudah dipercaya pelanggan.

 "Sekarang sudah saya ajarkan ke anak menantu. Tapi kalau saya di sini, tetap saya yang meracik," ujarnya.

Baca Juga: Jateng Perkuat Regenerasi Petani dan Inovasi Demi Jaga Ketahanan Pangan

Di tengah perubahan gaya hidup, jamu tradisional dinilai masih memiliki tempat di masyarakat, termasuk di kalangan anak muda.

"Sekarang yang minum jamu itu nggak cuma orang tua, anak muda juga banyak. Biasanya mereka cari yang buat kesehatan, kayak batuk atau buat jaga kondisi badan," ungkapnya. (iza/laz)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#kios jamu #Racikan Baru #jamu tradisional #Yogyakarta #inovasi