Baca Juga: Pemkab Gunungkidul Tawarkan Investasi Garmen Rp 51,6 Miliar di Semin, Bidik Pasar Ekspor
Seiring perkembangan waktu, variasi jamu pun bertambah. Jika dulu hanya tersedia jenis dasar seperti kunir asem dan pegal linu, kini hadir berbagai racikan baru hasil inovasinya.
"Dulu cuma kunir asem, pegal linu, paitan. Sekarang saya tambah sendiri, ada temulawak, kunir asem gula, sama racikan lain," katanya.
Tak hanya dari sisi produk, perubahan juga terlihat pada cara pemasaran. Jamu yang identik dengan tradisi kini telah masuk ke platform digital seperti GoFood dan Grab Food sejak beberapa tahun terakhir.
"Pas awal-awal ada Gojek langsung daftar. Sekitar 2017 atau 2018 sudah mulai jualan online," ucapnya.
Usaha ini bahkan sempat viral dan menarik perhatian banyak pelanggan, terutama mahasiswa yang datang membeli dalam jumlah besar.
"Waktu viral itu dari UGM, UMY, banyak yang ke sini borong. Sampai ada yang beli kunir asem satu galon buat dibagi-bagi," lanjutnya.
Meski mengikuti perkembangan zaman, proses produksi tetap mempertahankan cara tradisional.
Bahan seperti kunyit, jahe, dan kencur diolah secara manual untuk menjaga kualitas rasa.
"Di sini jamunya murni, habis digiling langsung diperas, diracik. Nggak direbus, jadi rasanya beda, lebih kental," jelas Siti Sofa.
Baca Juga: Pilur Serentak Mulai Akhir Mei, Pengaruh Trah Masih Kuat di 31 Kalurahan Wilayah Gunungkidul
Dalam sehari, penjualan bisa mencapai lebih dari 100 gelas, tergantung kondisi cuaca. Harga yang ditawarkan pun masih terjangkau, mulai dari Rp 7.000 hingga Rp 8.000 per gelas.
"Kalau ramai bisa lebih dari 100 gelas sehari. Dari pagi sudah ada pemasukan, alhamdulillah," katanya.
Lebih dari sekadar usaha, jamu ini juga menjadi sumber penghidupan keluarga. Dari hasil berjualan, Siti Sofa mampu menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi, bahkan salah satu anaknya kini tinggal di luar negeri.
Kini, usaha tersebut mulai diteruskan ke generasi ketiga, meskipun Siti Sofa masih aktif meracik jamu demi menjaga cita rasa yang sudah dipercaya pelanggan.
"Sekarang sudah saya ajarkan ke anak menantu. Tapi kalau saya di sini, tetap saya yang meracik," ujarnya.
Baca Juga: Jateng Perkuat Regenerasi Petani dan Inovasi Demi Jaga Ketahanan Pangan
Di tengah perubahan gaya hidup, jamu tradisional dinilai masih memiliki tempat di masyarakat, termasuk di kalangan anak muda.
"Sekarang yang minum jamu itu nggak cuma orang tua, anak muda juga banyak. Biasanya mereka cari yang buat kesehatan, kayak batuk atau buat jaga kondisi badan," ungkapnya. (iza/laz)
Editor : Winda Atika Ira Puspita