Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Koboy Jaga Permainan Interaksi Nyata di Tengah Gempuran Gim Digital, Seminggu Sekali Para Sheriff Harus Beradu Strategi  

Iwan Nurwanto • Rabu, 15 April 2026 | 21:15 WIB
ASYIK: Anggota Komunitas Board Game Yogyakarta (Koboy) saat memainkan permainan papan pada sebuah cafe di Kota Jogja Rabu (8/4) lalu. (DOKUMENTASI KOBOY)
ASYIK: Anggota Komunitas Board Game Yogyakarta (Koboy) saat memainkan permainan papan pada sebuah cafe di Kota Jogja Rabu (8/4) lalu. (DOKUMENTASI KOBOY)

JOGJA - Hingar-bingar permainan digital menggunakan gawai terus berkembang. Namun, ada sejumlah pemuda yang terus menjaga nyala permainan interaksi nyata. Mereka adalah Koboy atau Komunitas Board Game Yogyakarta.

Pemandangan berbeda tampak di sebuah kafe di Kota Jogja belum lama ini. Sejumlah orang yang mengatasnamakan sebagai sheriff tengah sibuk mengocok dadu dan memindahkan bidak seraya beradu strategi di atas meja. Gelak tawa mereka pecah tanpa handphone menyala.

Sheriff sendiri merupakan sebutan bagi anggota Koboy. Komunitas board game yang sudah ada sejak dua dekade dan masih eksis sampai sekarang. Meski harus diakui ada tantangan dalam hal regenerasi, lantaran permainan papan belum terlalu populer di Indonesia. Paling-paling yang dikenal hanya monopoli dan ular tangga.

Baca Juga:  36 Tahun Struktur Crossway Justru Picu Banjir, Bersih Sampah tiap Pagi usai Hujan: Kini Warga Desak Jembatan Dibangun Ulang

Salah satu Sheriff Koboy, Dipet Rama mengatakan komunitasnya berupaya merawat sebuah hobi yang mungkin bagi sebagian orang dianggap klasik. Sebab di zaman serba modern ini mungkin permainan gawai lebih populer karena mudah dimainkan dan tidak perlu pertemuan langsung.

Dipet menceritakan, embrio Koboy berawal dari grup WhatsApp bernama Dakon. Para anggota grup kemudian bertemu pada sebuah toko board game yang berada tidak jauh dari kampus swasta di Bantul. Tempat tersebut menjadi basecamp sejak 2014. Namun kemudian tutup di tahun 2016.

Baca Juga: Minim, Stasiun Pengisian Daya Becak Listrik Hanya Ada Satu Titik: Pengayuh Becak Listrik Kesulitan, Susah Wira-wiri Cari Penumpang

Kehilangan basecamp tak lantas menyurutkan semangat para pemainnya. Pada 2017, sisa-sisa anggota dari grup Dakon mulai mencari cara untuk kembali berkumpul. Berbekal izin dari perintis grup sebelumnya, mereka mengubah nama menjadi Koboy. Sebuah nama baru yang membawa semangat kebersamaan hingga hari ini.

“Koboy memiliki kegiatan berupa playday. Jadi kami memainkan board game setiap seminggu sekali, dan biasanya diadakan pada hari Rabu,” ujar Dipet kepada Radar Jogja.

Dipet menyatakan, bahwa di tengah tantangan regenerasi anggota yang semakin bertambah dewasa dan memiliki kesibukan masing-masing. Koboy masih terbuka bagi siapa pun yang ingin bergabung. Tidak memandang latar belakang.

Baca Juga: Banting Setir hingga Lewati Marka, Kurang Konsentrasi Picu Kecelakaan Dua Truk di Jalur Blondo-Sawitan

Anggota baru juga tidak perlu takut kesulitan memainkan board game. Karena Koboy bisa menyesuaikan kemampuan anggotanya. Misal jika baru mengenal, maka akan dipilih permainan papan yang mudah dipahami. “Kalau ada anggota baru, sengaja kami bawakan yang light agar mudah beradaptasi,” katanya.

Dipet mengakui, menjaga nyala permainan interaksi nyata seperti board game di Indonesia memang bukan yang mudah. Sebab bagi negara-negara Asia Tenggara, board game masih dianggap permainan yang tersegmentasi.

Berbeda dengan di Eropa atau Amerika yang cenderung menganggap board game sebagai bagian tidak terpisahkan. Karena merupakan permainan yang asyik ketika ada tradisi kumpul keluarga setiap akhir pekan.

Dipet bercerita, Koboy pernah berupaya keras menjalankan program regenerasi agar ada tongkat estafet bagi para anggota lama yang mulai sibuk dengan urusan masing-masing. Namun ambisi tersebut dikesampingkan. Saat ini Koboy fokus hanya sekedar sebagai wadah bersenang-senang.

“Prinsip Koboy saat ini cuma satu, menjadi wadah. Kalau ada yang mau main, ya ayo. Kalau tidak ada, ya sudah,” tandas Dipet. (inu/eno)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Komunitas Board Game Yogyakarta (Koboy) #permainan #sheriff #board game #gim