RADAR JOGJA - Permainan monopoli dulunya pernah populer di era tahun 80 hingga 90-an. Permainan ini sering dimainkan oleh anak-anak sekitar dua sampai delapan orang saat berkumpul.
Dosen Psikologi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Nesya Adira mengatakan, permainan ini dulunya populer karena belum ada game online. Sehingga banyak anak-anak yang sering memainkan permainan ini.
Ia menjelaskan, monopoli merupakan permainan yang membutuhkan waktu lama. Permainan dimulai dari kondisi pemain yang tidak memiliki apa-apa, kemudian perlahan membeli tanah hingga aset lainnya.
Baca Juga: Jean Paul van Gastel Akui Belum Aman dari Zona Degradasi di BRI Super League 2025/2026
"Monopoli itu sebenarnya tidak ada finish-nya. Biasanya kalau sudah terlalu lama, permainan dihentikan dan dilanjutkan dengan menghitung siapa yang memiliki uang paling banyak,” ujarnya kepada Radar Jogja Jumat (10/4).
Selain itu, monopoli juga memberikan sensasi tersendiri bagi pemain. Ada rasa senang ketika mendapatkan uang dari pemain lain, misalnya saat pemain lain berhenti di properti yang dimiliki.
“Seolah-olah kita punya sesuatu, seperti punya Inggris atau Amerika, dan bisa menarik uang dari pemain lain. Itu ada sensasi enjoyment yang tinggi,” jelasnya.
Menurutnya, monopoli juga mensimulasikan dunia nyata, terutama dalam hal pengelolaan keuangan dan bisnis. Namun, bukan sekadar edukasi ekonomi, permainan ini lebih menekankan pada kemampuan berpikir strategis.
Permainan monopoli melatih pengambilan keputusan, seperti menentukan kapan membeli aset atau membangun hotel. Bahkan, terdapat strategi tertentu yang digunakan pemain untuk menang.
Salah satunya memilih masuk penjara saat permainan mendekati akhir. Dengan begitu, pemain tidak perlu berpindah tempat dan terhindar dari risiko membayar kepada pemain lain, namun tetap bisa mendapatkan pemasukan.
“Permainan seperti ini melatih kemampuan kognitif. Terutama dalam hal strategi dan pengambilan keputusan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, dalam monopoli pemain juga belajar mengenali aset yang lebih menguntungkan. Misalnya, lokasi tertentu seperti bandara dinilai lebih menguntungkan dibandingkan area lainnya.
"Ada manfaatnya untuk kemampuan kognitif. Memang perkembangan kognitif jadi terlatih untuk mengambil keputusan," tambah Nesya. (cin/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita