Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Lumbung Mataraman Wukirsari Gaet Minat Petani Muda, Usung Pertanian Berbasis Teknologi: Ubah Pandangan Bertani Lebih Menjanjikan

Cintia Yuliani • Minggu, 29 Maret 2026 | 08:57 WIB
MODERN: Lumbung Mataraman di Kalurahan Wukirsari. Di sini anak muda digaet untuk bertani menggunakan basis teknologi. (Cintia Yuliani/Radar Jogja)
MODERN: Lumbung Mataraman di Kalurahan Wukirsari. Di sini anak muda digaet untuk bertani menggunakan basis teknologi. (Cintia Yuliani/Radar Jogja)

BANTUL - Minat generasi muda terhadap sektor pertanian di Kalurahan Wukirsari masih rendah di tengah anggapan pekerjaan lain lebih menjanjikan.

Melalui program Lumbung Mataraman, pemerintah kalurahan (pemkal) mencoba mengubah pola pikir tersebut dengan menghadirkan pertanian modern berbasis teknologi dan terintegrasi.

Lurah Wukirsari Susilo Hapsari menuturkan, Lumbung Mataraman tidak sekadar program pertanian biasa.

Baca Juga: Pelanggaran KTR Mendominasi di Libur Lebaran, Malioboro Masih Belum Bebas Asap Rokok 

Program ini dapat menarik generasi muda, tertarik dengan pertanian. Selain itu, bisa memperkuat ketahanan pangan dan menjadi sarana edukasi pertanian bagi masyarakat. 

“Dengan pertanian itu ternyata kalau ditekuni, apalagi menggunakan teknologi, bisa menghasilkan uang yang besar,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya Jumat (27/3/2026). 

Menurutnya, lewat Lumbung Mataraman, teknologi menjadi pembeda utama dari metode pertanian lainnya.

Di lahan ini, penyiraman tanaman tak lagi dilakukan secara manual satu per satu. Sistem irigasi modern memungkinkan petani cukup mengaktifkan alat, dan seluruh tanaman tersiram otomatis.

Baca Juga: Pembalap Muda Andalan DIY Aldi Satya Mahendra Target Pertahankan Posisi Klasemen di Seri 2 World Supersport Portimao

 Efisiensi waktu dan tenaga pun meningkat, sementara hasil panen diharapkan lebih optimal.

Tak hanya di sektor tanaman, inovasi juga diterapkan pada peternakan. Untuk kambing, misalnya, peternak tidak lagi harus mencari rumput setiap hari.

Pakan kering berbahan daun-daunan yang difermentasi menjadi solusi praktis. “Tinggal diberikan saja, tidak perlu ngarit setiap hari,” jelasnya.

Baca Juga: Belum Jadi Pilihan Utama di PSIM Jogja, Donny Warmerdam Tetap Optimistis Kembali ke Performa Terbaiknya

Konsep yang diusung adalah integrated farming pertanian, peternakan, dan perikanan yang saling terhubung dalam satu kawasan.

Di satu lokasi, terdapat kolam ikan, kandang ternak, hingga lahan tanaman hortikultura.

“Ini hanya percontohan. Harapannya masyarakat di sekitarnya bisa meniru pengelolaannya,” tambah dia.

Baca Juga: Dulu Tembus Lima Ton, Kini Hanya 2–3 Ton: Sampah di Pantai Parangtritis Turun saat Libur Lebaran kare Faktor Ini

Selama ini, sebagian petani masih bertahan dengan cara konvensional yakni mencangkul, menanam, dan menyiram tanpa memperhatikan kondisi tanah secara detail.

Padahal, faktor seperti pH tanah serta kandungan unsur hara seperti nitrogen (N) dan fosfor (P) sangat menentukan hasil panen.

Melalui Lumbung Mataraman, pendekatan itu mulai diperkenalkan. Pengelolaan lahan dilakukan lebih terukur, mengikuti prosedur pertanian modern.

Baca Juga: Pemprov DIY Akan Gelar Open House, Dikonsep Lebih Sederhana, Sediakan Menu Angkringan dan Terbuka untuk Umum

Meski tergolong baru, geliatnya sudah terasa. Berbagai komoditas telah dipanen, mulai dari cabai, timun, melon, hingga telur puyuh.

Saat ini, ratusan burung puyuh dan 75 ekor kambing juga dikelola di kawasan tersebut.

Tanaman yang tengah dibudidayakan antara lain timun, melon, bawang merah, dan cabai.

Ke depan, jenis tanaman akan terus berganti menyesuaikan musim dan kebutuhan pasar.

Baca Juga: Simpang Tempel Jadi Jalur Batas Provinsi Terpadat di DIJ, Dishub Sleman Sebut Arus Kendaraan Masih Terkendali

Tak hanya produksi, Lumbung Mataraman juga mulai dilirik sebagai destinasi edukasi.

Sejumlah kunjungan dari anak-anak TK hingga warga desa lain sudah berdatangan untuk belajar langsung di lapangan.

Program ini merupakan prioritas Pemprov DIJ yang didanai melalui dana keistimewaan dan diampu oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIJ. 

“Pembangunan dimulai 2025 setelah melalui proses pengajuan sejak 2023, dengan total anggaran sekitar Rp 650 juta,” katanya. 

Baca Juga: Bakal Operasikan Gerai Beras hingga Peternakan Ikan, Pembangunan Gerai KDMP Tahap Satu di Bantul Hampir Rampung

Pengelolaannya melibatkan banyak pihak. Taruna Tani atau petani milenial mengelola bawang merah dan cabai.

Kelompok Wanita Tani (KWT) menangani melon dan timun. Sementara itu, LPMKal mengelola peternakan kambing dan puyuh.

"Semua berasal dari warga Wukirsari," katanya. 

Saat ini, lahan yang digunakan baru sekitar satu hektare. Namun, tahun ini ditargetkan berkembang hingga dua sampai tiga hektare.

Baca Juga: Belanja Pegawai 30 Persen Sesuai Aturam, BKPP Sleman Sebut PPPK Paruh Waktu dan Tunjangan Pegawai Tetap Terancam

Dukungan tambahan juga datang dari DPKP DIJ sebesar Rp 500 juta serta potensi bantuan CSR.

Untuk sementara, hasil panen belum mencukupi kebutuhan warga setempat. Selain karena produksi masih terbatas, harga jual yang lebih murah dari pasaran membuat produk cepat terserap.

Ke depan, Lumbung Mataraman Wukirsari juga akan menjadi KDMP dan komoditasnya akan bekerja sama dengan SPPG untuk menyuplai kebutuhannya. 

Baca Juga: Antisipasi Gagal Panen saat Kemarau, DKPP Bantul Telah Siapkan Bantuan Ratusan Pompa Air untuk Petani

Ia berharap para petani di Wukirsari bisa mengikuti penerapan pertanian dengan menggunakan teknologi.

 Pun diharapkan dapat merawat tanah serta tanaman dengan baik seperti yang diterapkan di Lumbung Mataraman. “Semoga anak-anak muda tertarik menggeluti bidang pertanian,” imbuhnya. (cin/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Petani Muda #Pertanian #wukirsari imogiri #generasi muda #berbasis teknologi #Lumbung Mataraman