RADAR JOGJA - Sudah sekian lama Desa Tanjunganom, Kecamatan Banyuurip, Purworejo dikenal sebagai sentra penghasil sawangan unggulan.
Sawangan atau peluit burung hasil tangan-tangan terampil warga setempat selama ini selalu diminati pasar lokal maupun nasional.
Salah seorang perajin sawangan Purwono, 50, menjelaskan, hampir setiap hari dia bersama warga lain sibuk memproduksi sawangan.
Dalam sehari setiap perajin rerata mampu memproduksi 30-50 biji sawangan.
"Paling banyak seminggu bikin 500 biji. Itu sudah finishing dan segala macam," katanya saat ditemui Radar Jogja, Jumat (13/2/2026).
Dia mengungkapkan, sawangan yang diproduksi warga bukan hanya dilirik pasar lokal, tetapi juga diminati pasar luar daerah.
Adapun selama ini hasil keterampilan warga paling banyak dikirim ke wilayah Jawa Timur dan Jawa Barat.
"Baru kemarin saya kirim orderan 9.000 biji. Alhamdulillah masih dipercaya penghobi burung dara," ungkapnya.
Purwono mengaku tidak mengetahui pasti kapan awal mula sawangan diproduksi di Desa Tanjunganom.
Namun keterampilan tersebut saat ini sudah menjadi tradisi yang diturunkan dari orang tua.
Dia mengatakan, sebagian perajin sawangan di desanya merupakan keturunan ketiga dari orang tua pendahulu.
"Kasepuhan tinggal satu orang masih hidup, usianya mungkin sudah 90 tahun lebih. Beliau ibaratnya babat alas dulu," terangnya.
Ada banyak jenis sawangan hasil produksi warga Desa Tanjunganom. Tetapi yang paling dikenal setidaknya ada 10 jenis.
Di antaranya, Aladin, Kobra, Paculan, Kobra Alumunium, Mension dan Karakter.
Harga yang ditawarkan juga cukup variatif, mulai Rp 5.000 hingga Rp 10.000 tergantung jenis, ukuran dan suara.
Purwono mengatakan, produksi sawangan khas Desa Tanjungamom telah memiliki segmen pasar tersendiri. Yakni menyasar kelas menengah ke bawah. Meski dikenal dengan harga terjangkau, dia memastikan kualitas barang berani bersaing dengan produksi dari daerah lain.
"Sawangan itu yang dijual suara. Kalau suara bagus semakin mahal," ujarnya.
Purwono mengungkapkan, kendala yang dihadapi para perajin sawangan salah satunya keterbatasan bahan baku.
Di mana sebelumnya perajin mengandalkan kayu pohon cangkring sebagai bahan baku unggulan. Namun berjalannya waktu, pohon tersebut kini mulai sulit dijumpai.
Kondisi ini yang membuat perajin beralih dari bahan alam ke bahan sintetis. "Sekarang pakai resin atau fiber glass. Tinggal cetak, jadi," bebernya.
Kepala Desa Tanjunganom, Kecamatan Banyurip Mukh Asngari menyatakan, sudah cukup lama desanya dikenal sebagai penghasil sawangan burung.
Kerajinan tangan itu menjadi salah satu potensi desa yang terus bertahan secara turun temurun.
Produksi sawangan selama ini terbukti mampu menghidupi sebagian besar perekonomian warga.
"Dari home industri ini bisa buat mencukupi kebutuhan keluarga," jelasnya.
Menurutnya, memproduksi sawangan bagi warga bukan sekadar bernilai ekonomi, tetapi juga ada nilai lain. Yakni meneruskan tradisi yang telah lama hidup di Desa Tanjunganom.
Dia juga mengaku cukup khawatir karena belakangan jumlah perajin sawangan menyusut seiring berkembangnya zaman.
"Masih tetap bertahan. Tapi beda dengan dulu karena kurang generasi penerus. Dulu hampir setiap rumah itu bisa buat," bebernya. (fid/laz)
Editor : Winda Atika Ira Puspita