KULON PROGO - Gembor atau alat penyiram tanaman berbentuk ceret kini mulai ditinggalkan, seiring munculnya banyak teknologi pertanian modern.
Namun bagi petani di desa, gembor tetap menjadi pilihan utama wadah siram tanaman.
Salah seorang perajin gembor Agung Setyabudi menjelaskan, gembor telah menjadi barang yang melekat dengan petani.
Era jaya gembor pada tahun 1990-an. Saat itu, pertanian Indonesia sedang berkembang, sehingga kebutuhan alat tani banyak dilirik.
"Kalau dulu gembor laku keras, bahkan stok selalu habis," ucap Agung saat ditemui Radar Jogja di rumah produksinya, Padukuhan Kuncen, Kalurahan Bendungan, Jumat (16/1/2026).
Perajin berumur 50 tahun itu menggeluti bidang kerajinan seng dan alumunium turun temurun.
Dari orangtuanya ia belajar membuat gembor. Ini yang membuat Agung menyaksikan kejayaan gembor.
Dahulu tahun 90-an, setiap bulannya produksi gembor hasil karya keluarganya mencapai 300-500 buah.
Bahkan dengan produksi tinggi, stok gembor di gudangnya selalu habis. Lantaran banyak petani yang memilih menggunakan gembor sebagai alat siram.
Namun kondisinya jauh berbeda dengan era sekarang. Teknologi pertanian berupa sprinkle tanaman, membuat metode siram tanaman tradisional mulai ditinggalkan.
Pasalnya, sprinkel atau alat siram otomatis dapat menyiram tanaman secara mandiri dengan hanya menekan saklar.
"Memang produksi dan pesanan turun, tapi masih ada yang pesan dan mencari," ungkapnya.
Kendati tergusur dengan teknologi pertanian, kerajinan gembor tetap menjadi rujukan petani. Khusus di wilayah DIY, masih banyak petani memanfaatkan gembor. Hal ini dipengaruhi pola pertanian.
Sebagian kecil petani di DIY memiliki luasan tanah yang sempit. Sehingga, saat menggunakan sprinkel justru tak efektif.
Di samping itu, harga gembor relatif murah dibandingkan dengan alat pertanian. Pasalnya, gembor dipatok Rp 90 ribu untuk ukuran lima liter.
Gembor relatif praktis dalam penyimpanan, cukup disimpan di dalam sumur ataupun di gubuk tani.
"Kalau pakai sprinkel harus bawa pompa tambah listrik, padahal lahannya sedikit," ungkapnya.
Agung mengaku masih melayani pembuatan gembor bagi petani. Saat musim kemarau, gembor karyanya menjadi jujugan dari berbagai daerah. Di musim tertentu, produksi gembor rata-rata mencapai 3-5 buah per hari.
Untuk membuat gembor, Agung perlu mengolah pelat seng, bahan yang tergolong ampuh dan tahan air.
Terdapat tiga ukuran yang diproduksi, gembor ukuran lima liter, tujuh liter, hingga 10 liter.
Bagian gembor terdiri atas wadah yang digunakan sebagai tampungan air menyesuaikan dengan kapasitas.
Pada bagian atas gembor terdapat tutup serta pegangan yang terbuat dari kayu. Mirip seperti ceret, gembor dilengkapi dengan leher yang disebut torong.
Mampu mengalirkan air, leher atau torong gembor disangga oleh plat penyangga dan kalo atau plat pengikat.
Sedangkan di ujung leher dipasang cincim. Cincim biasanya berbentuk saringan, untuk menyaring keluarnya air.
Karya Agung memperlihatkan cincim yang dapat diganti-ganti ukuran serta modelnya. Terdapat cincim dengan ukuran lubang kecil hingga besar.
Hal inilah yang membuat produk gembor karyanya kerap dilirik petani. (gas/laz)
Editor : Winda Atika Ira Puspita