RADAR JOGJA - Di tengah banyaknya inovasi seni pertunjukan, Ketoprak RRI tetap teguh berdiri sebagai benteng terakhir ketoprak konvensional. Meski saat ini banyak yang mengarah ke digital dan serba naskah, Ketoprak di RRI tetap mempertahankan tradisi improvisasi tanpa teks.
Salah seorang pemain ketoprak kawakan RRI Stefanus Prigel Siswanto menjelaskan, ketoprak RRI ini sebenarnya mempunyai sejarah panjang. Sejak medio 1945 silam, audio ketoprak RRI itu tetap setia pada jalur gethok tular alias tanpa naskah.
"Sekarang sudah punya panggung dan sering pentas. Tapi Ketoprak RRI itu asalnya audio. Dari dulu sampai sekarang, kami itu tanpa naskah. Semuanya improvisasi," jelasnya kepada Radar Jogja, Jumat (9/1).
Walaupun sistem tanpa naskah, pria yang akrab disapa Dalijo Angkring ini menyebut Ketoprak RRI bukan berarti tanpa persiapan. Menurutnya, saat take audio, sutradara biasanya hanya menuliskan poin-poin adegan atau jejeran di sebuah papan.
"Sebagai contoh, adegan pertama di Keraton Pajang, adegan kedua di Pantai Kudus. Sisanya menjadi tanggung jawab kreativitas aktor di depan mikrofon," ungkapnya.
Dalijo sendiri tak menampik bermain ketoprak audio justru memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi dibanding saat tampil di panggung fisik. Sebab, di audio, aktor dituntut agar mampu menciptakan imajinasi di benak pendengar hanya lewat suara.
"Kalau di panggung, penonton sudah lihat setting taman. Tapi kalau di audio (radio), pemain harus bisa menggambarkan situasi lewat dialog dan emosi. Pendengar harus bisa membayangkan suasananya seperti apa, tempatnya di mana, dan namanya siapa. Itu lebih sulit," tuturnya.
Meskipun saat ini banyak inovasi di kesenian ketoprak, secara pribadi Dalijo ingin ketoprak konvensional di RRI tetap dilestarikan. Seniman kelahiran 24 Mei 1966 ini ingin ketoprak konvensional di Jogjakarta tidak kehilangan ruhnya.
"Biarlah yang muda berkreasi dengan ketoprak garapan, tapi akarnya harus tetap dijaga," tegasnya. (ayu/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita