Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sebelum Era Cetak, Reklame Jalanan Dilukis Langsung Tangan Seniman, Pengerjaan untuk Satu Titik  Rerata Tiga Hari

Cintia Yuliani • Minggu, 21 Desember 2025 | 12:50 WIB

 

 

Budi Haryono, 58, seniman reklame asal Dlingo.
Budi Haryono, 58, seniman reklame asal Dlingo.

BANTUL - Era tahun 1990 hingga 1995 menjadi masa keemasan reklame lukis manual di Yogyakarta. Sebelum teknologi cetak digital dikenal luas, papan-papan reklame besar di tepi jalan masih digarap dengan kuas dan cat oleh tangan-tangan seniman.

Salah seorang pelaku sejarah di masa itu adalah Budi Haryono, 58, seniman reklame asal Dlingo.

Ia aktif melukis reklame jalanan di wilayah Bantul dan sejumlah titik di Ygyakarta sejak awal 1990-an.

Budi bercerita, saat itu ia tergabung dalam komunitas yang dikenal dengan sebutan Seniman Merdeka.

Julukan itu muncul setelah kelompok besar Samsoel Group, yang kala itu dikenal sebagai pionir pengerjaan baliho-baliho besar pertama di Jogja, mengalami perpecahan.

Dari situ lahir kelompok-kelompok baru. Salah satunya Seniman Merdeka, yang beranggotakan para pelukis reklame independen.

 "Saya masuk Seniman Merdeka sekitar tahun 1990. Dari tahun 1990 sampai 1995 saya aktif melukis reklame di Jogja, tapi tidak hanya di satu tempat,” ujarnya saat dihubungi lewat telepon Jumat (19/12/2025).

Selain bekerja bersama Seniman Merdeka, Budi juga melukis untuk berbagai biro iklan lain secara freelance.

Sistem kerjanya kala itu berpindah-pindah, menyesuaikan pesanan biro iklan yang membutuhkan tenaga pelukis manual.

“Dulu kalau biro iklan butuh objek yang harus dilukis, ya kami dipanggil. Saya termasuk yang sering ke mana-mana,” katanya.

Baca Juga: Dari Jogja ke Barcelona, Kenzie Satrio Wakili Tim PSIM di Program EPA Future Star

Lokasi pengerjaan reklame pun tersebar di banyak titik. Tidak hanya di sekitar kawasan kampus seperti ISI Yogyakarta, tetapi juga di Pakualaman, Dongkelan,  hingga Sentul.

Tema reklame yang dilukis beragam, mulai dari iklan produk seperti sepeda motor, hingga proyek-proyek besar berskala tahunan.

“Kalau di Seniman Merdeka itu biasanya proyek besar, pesanan dari luar Jogja. Misalnya proyek pembangunan, termasuk melukis baliho ukuran besar,” ungkapnya.

Untuk ukuran reklame, Budi menyebut sangat variatif. Papan reklame yang ia kerjakan rata-rata berukuran 4,5 meter x 5 meter.

Bahkan ada yang mencapai 7 meter x 4 meter, setara dengan baliho besar yang masih ditemui saat ini.

Proses pengerjaan reklame lukis manual tergolong cepat. Untuk satu papan reklame, ia biasanya mengerjakan sendiri satu bidang penuh, mulai dari objek gambar hingga tulisan.

Waktu pengerjaan rata-rata tiga hari, bahkan dalam kondisi tertentu harus selesai dalam satu hari, menyesuaikan tenggat pesanan.

"Kesulitannya itu karena semua serba manual. Belum ada proyektor atau alat bantu lain. Tapi desain sudah ada, jadi tinggal memindahkan ke bidang besar,” jelasnya.

Meski demikian, untuk proyek tertentu, terutama baliho berukuran sangat besar, pengerjaan dilakukan secara tim.

Budi sendiri fokus pada bagian lukisan utama, sementara bagian lain dikerjakan bersama.

Waktu terlama yang pernah ia alami dalam pengerjaan reklame lukis mencapai satu minggu.

Teknologi cetak mulai dikenal sekitar 1995–1996, dan semakin masif setelah akhir 1999 hingga awal 2000-an.

Sejak saat itu reklame lukis manual perlahan tergeser oleh reklame cetak.

Di luar aktivitasnya sebagai pelukis reklame, kecintaan Budi pada seni rupa sudah tumbuh sejak kecil.

Ia mengenyam pendidikan seni di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR), kini menjadi SMKN 3 Kasihan. "Saya jurusan lukis. Dari kecil memang sudah senang melukis,” ungkapnya. (cin/laz)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Seniman #tokoh realisme #pelukis reklame #papan reklame #lukis reklame #Samsoel #lukis manual #pelukis realisme #reklame #SMSR