Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pengamat Komunikasi Sebut Ada Kedekatan Kultural yang Kuat Jadi Alasan Cerita Horor Diminati Masyarakat

Delima Purnamasari • Minggu, 14 Desember 2025 | 14:30 WIB

 

 

Ilustrasi bangunan horor
Ilustrasi bangunan horor

RADAR JOGJA - Cerita horor terus jadi produk media yang dinikmati masyarakat sejak dulu hingga sekarang. Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII), Khumaid Akhyat Sulkhan menilai hal ini disebabkan akan adanya kedekatan kultural antara cerita yang disajikan dengan masyarakat.

"Entah di media cetak atau film itu jadi bagian dari cerita rakyat, sehingga eksistensinya langgeng, bahkan hingga sekarang," terangnya dihubungi lewat sambungan telepon, Jumat (5/12).

Sulkhan menilai, tokoh-tokoh hantu yang dihadirkan juga merupakan folklor. Misalnya, demit di hutan, siluman, kuntilanak, hingga sundel bolong. Walau demikian, dalam konteks historis, cerita yang disajikan banyak masuk dalam eksploitasi karena menampilkan kesadisan dan unsur seksualitas.

Dia menilai ketertarikan masyarakat Indonesia pada genre horor juga tidak lepas dari situasi politik khususnya orde baru. Pada masa itu, berbagai media, termasuk film dibatasi oleh sensor pemerintah. Sulit jika membahas soal dinamika sosial politik.

Sementara cerita-cerita mengenai hantu lebih ditolerir, asalkan cerita fokus mengenai kejahatan yang kalah dengan kebaikan. "Makanya cerita yang beredar itu setan sekuat apa pun akan kalah dengan kiai," tambahnya.

Menurutnya, ekosistem genre horor memang sudah terbentuk di Indonesia, sehingga sampai saat ini masih terus diminati oleh masyarakat. Bahkan dia sebut terus ada upaya memroduksi ulang tema ini dengan harapan bisa mendulang kesuksesan zaman dulu di era sekarang.

Meski demikian, saat ini telah ada sedikit pergeseran cerita yang lebih kompleks. Dalam cerita-cerita horor sekarang, agama tidak mesti menang. Banyak adegan diceritakan saat sang kiai mau melaksanakan rukiyah, jinnya lebih hapal surah. Saat akan membacakan zikir, tasbihnya pecah, bahkan sang ustaz juga bisa mati duluan.

Walau demikian, ceritanya tidak bergeser dari kisah-kisah di tengah masyarakat yang mengangkat lokalitas. "Secara pribadi saya menilai genre yang mulai bisa menyaingi horor adalah cerita rumah tangga, khususnya perselingkuhan karena terasa relate bagi sebagian masyarakat," katanya. (del/laz) 

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Universitas Islam Indonesia (UII) #folklor #genre horor #Cerita Horor #dosen #Khumaid Akhyat Sulkhan #ilmu komunikasi #Demit #kultural