Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Nostalgia Cerita-Cerita Horor di Berbagai Media, Rutin Kirim, 400 Tulisan yang Dimuat Kini Jadi Kliping

Cintia Yuliani • Minggu, 14 Desember 2025 | 12:05 WIB

 

Subadrio, pembaca cerita horor di media cetak
Subadrio, pembaca cerita horor di media cetak

RADAR JOGJA - Era 1980-an, cerita horor pernah berada di puncak popularitas. Majalah dan koran kala itu rutin memuat kisah mistis yang diburu pembacanya. Dua di antara mereka, Subadrio (pembaca setia) dan Bagong Soebardjo (penulis horor senior) masih menghidupi ingatan masa keemasan tersebut.

Subadrio, 40, warga Sanden, Bantul mengenang masa kecilnya sebagai periode ketika ketertarikannya pada dunia mistis mulai tumbuh. Ia sering membaca majalah Djaka Lodang, majalah mingguan yang memuat cerita horor.

"Dari kecil saya suka hal-hal berbau mistis. Kadang takut, tapi seperti ada tantangan saat membaca cerita begitu” jelasnya saat dihubungi lewat telepon Jumat (5/12). 

Kebiasaannya membaca cerita horor dimulai sejak SMP dan terus bertahan hingga sekarang. Koleksi majalahnya pun tidak main-main. Ia masih menyimpan berbagai media cetak jadul, termasuk majalah dan novel horor. “Sudah ada 200-an lebih koleksi saya,” ujarnya. 

Koleksi itu ia dapatkan dari pemberian teman, membeli sendiri, hingga berburu di Pasar Klitikan, Jogja. Harga satu majalah jadul kini bisa mencapai Rp 10 ribu, padahal dulu hanya sekitar Rp 6 ribu.

Membaca majalah jadul baginya seperti membuka kembali kehidupan masyarakat tempo dulu. Ia mencontohkan, majalah-majalah lawas kerap menampilkan tokoh-tokoh penyanyi era dulu yang kini sudah meninggal. Menurutnya, kutipan-kutipan dari para tokoh itu masih relevan dibaca saat ini. 

 Berbeda dengan Subadrio yang tumbuh sebagai pembaca, Bagong Soebardjo, 69, justru menjadi penulis cerita horor di berbagai media cetak sejak awal 1980-an. Ia mengirim tulisan ke majalah Jayabaya, Djaka Lodang, Penyebar Semangat, hingga berseri-seri di Koran Merapi.

Bagong Soebardjo (penulis horor senior)
Bagong Soebardjo (penulis horor senior)

"Pengalaman pergaulan dengan teman-teman itu sering memunculkan cerita-cerita mistis. Itu jadi daya tarik. Kalau ada teman bercerita, saya telaah lalu saya jadikan cerita,” ujarnya. 

Cerita-cerita yang ia dengar di pos ronda atau saat nongkrong bersama teman menjadi sumber ide tak berkesudahan. Setiap kali menulis, Bagong selalu langsung mengirim naskahnya ke media.

Ia bahkan membuat ilustrasi sendiri untuk memperkuat suasana cerita. "Dulu setiap hari saya mengirim. Waktu masih laku, honornya lumayan,” katanya.

Baca Juga: Pemkab Bantul Lantik 3.393 PPPK Paruh Waktu, Abdul Halim Muslih Ingatkan Loyalitas Tak Boleh Paruh Waktu

Total lebih dari 400 tulisan sudah ia hasilkan dan ia simpan dalam bentuk kliping. Selain horor, Bagong juga menulis dongeng, membuat ilustrasi kartun, hingga menjadi juara sandiwara radio.

Seseorang yang berprofesi sebagai pendongeng dan perajin wayang serta boneka ini tengah menyiapkan novel bergenre horor yang materinya sudah terkumpul.  Soal proses kreatif, ia mengaku tidak pernah kesulitan saat menulis.

Begitu duduk di depan komputer, alur cerita biasanya langsung mengalir lancar dan bisa diperpanjang sesuai kebutuhan. Kebiasaan itu telah terbentuk sejak ia mulai menulis pada era 1980-an.

Mereka yang ingin menulis cerita horor, Bagong memberi tips cerna dan telaah dulu cerita yang diterima, pastikan layak muat, kembangkan plot dan tokoh, kemudian beri akhir yang menarik. (cin/laz)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Bagong Soebardjo #Djaka Lodang #pembaca #Cerita Horor #Jayabaya #kisah mistis