Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Radio AM Tak Sekadar Lawasan, Jadi Lorong Waktu Simpan Sejarah Panjang Republik Indonesia

Adib Lazwar Irkhami • Minggu, 30 November 2025 | 15:40 WIB

 

Nanang Sudjatmiko.
Nanang Sudjatmiko.

 

JOGJA - Di tengah gempuran era digital yang semakin maju dan banyaknya layanan streaming musik, suara khas radio AM mungkin terdengar asing bagi generasi muda.

Namun bagi para kolektor, suara dan wujud fisik radio lawas itu adalah lorong waktu yang menyimpan memori sejarah panjang Republik Indonesia.

Salah satu kolektor radio antik Jogja Nanang Sudjatmiko menjelaskan, radio AM bukan sekadar benda elektronik bekas. Benda itu merupakan saksi bisu perjalanan bangsa.

Bagi Nanang, radio AM memiliki hubungan erat dengan sejarah panjang Indonesia. Mulai dari sebelum kemerdekaan, saat kemerdekaan, dan setelah kemerdekaan. "Radio itu tidak pernah lepas dari bangsa Indonesia,"  lontarnya kepada Radar Jogja, Jumat (21/11/2025).

Selain nilai historis, lanjut Nanang, daya tarik utama radio AM terletak pada estetika fisik, seperti tabung dan transistor masa lalu.

Menurutnya, radio zaman dulu itu memiliki variasi bentuk dan warna yang kaya. Berbeda dengan desain elektronik modern yang cenderung seragam.

Tak hanya itu, bagi ketua Paguyuban Penggemar Radio Antik Mataram (Paramaarta) keunikan radio AM juga terletak pada kurasinya.

Sebab, banyak radio-radio yang pernah beredar di Indonesia memiliki istilah-istilah unik seperti Radio Sudirman, Radio Gusti Nurul, Radio Soekarno, dan Radio Gatotkaca.

 "Orang Indonesia kan senangnya nyebut-nyebut gitu ya, dikait-kaitkan. Itu ada sejarahnya," katanya.

Baca Juga: Khawatir Sisa Gaji dan Pesangon Tak Dibayarkan, Mantan Karyawan PT Primissima Siapkan Langkah Hukum

Nanang juga mengungkapkan meski radio AM termasuk barang lawas, bukan berarti radio-radio itu hanya menjadi besi tua.

Sebagian koleksinya masih berfungsi orisinal. Namun karena siaran AM dan SW kini makin jarang, ia melakukan modifikasi cerdas.

Bodi radio tetap mempertahankan bentuk vintage yang antik, namun jeroannya disisipi teknologi kekinian seperti FM tunner hingga koneksi bluetooth.

"Kalau sekarang memang sudah diburu orang. Harga di media sosial sudah di atas Rp 200 ribu sampai Rp 500 ribu. Bahkan yang NOS (New Old Stock) barang lama tapi kondisi baru lengkap dengan kardus itu, harganya bisa jutaan rupiah," ungkapnya.

Maka dari itu, sebagai seorang kolektor Nanang memiliki misi idealis. Bersama Paramaarta, Nanang ingin berusaha mencegah radio-radio bersejarah itu lari ke luar negeri dan dibeli oleh kolektor asing.

Sebab, menurutnya, radio AM itu merupakan aset sejarah yang ingin tetap dipertahankan agar berada di tanah air sebagai sarana edukasi.

"Tujuannya agar generasi muda tahu, 'Oh ini to radio-radio yang pernah beredar di Indonesia," ujarnya. (ayu/laz)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Radio AM #sejarah panjang #lawasan #republik indonesia