KULON PROGO - Tahun 1920-an menjadi awal teknologi berbasis amplitudo suara. Dari situlah siaran radio menjadi arus utama informasi global.
Di Indonesia, siaran radio berawal dari Amplitude Modulation (AM) dan menemani masa perjuangan hingga pasca- kemerdekaan.
Pemilik radio AM Ngadiwon menjelaskan, kejayaan radio di era tahun 1960-1990. Saat itu, radio AM menjadi pilihan utama sebelum diperkenalkannya radio FM.
Tentu penggunaan radio AM cukup membekas baginya. Bahkan, radio AM kesayangannya masih tersimpan menjadi koleksi.
"Radio AM dulu berjaya tahun 60-80 an, sebelum dikenalkannya FM," ucap Ngadiwon saat ditemui Radar Jogja, Jumat (21/11/2025).
Ia menjelaskan, sejak kecil terbiasa mendengarkan radio. Bahkan saat transisi dari radio AM ke FM dirinya menyaksikan secara langsung.
Tentu kedua jenis radio ini memiliki kekurangan dan keunggulan tersendiri.
Radio AM memanfaatkan frekuensi rendah, sedangkan FM frekuensi tinggi. AM atau dikenal medium wave (MW) memiliki keunggulan dalam hal penyiaran yang luas.
Bahkan saat malam hari, siaran dari luar Pulau Jawa dapat tertangkap dengan mudah. Padahal saat itu, radio AM belum dilengkapi dengan antena.
Untuk mencapai siaran luar negeri, pemilik cukup menambahkan antena tinggi. Tujuannya menangkap sinyal pemancar dari luar negeri. Tentu hal itu membutuhkan biaya mahal di kala pemasangan.
Selain itu, radio AM dulu memiliki harga yang cukup murah di kalangan pelajar. Lantaran pembuatannya cukup simpel dan tak membutuhkan teknologi tinggi.
Di balik keunggulan itu, radio AM memiliki kekurangan. Jangkuan yang luas dengan frekuensi medium, membuat kualitas suara menjadi mono.
Alhasil, saat mendengarkan radio seringkali muncul suara tak jernih.
"Dulu belum banyak stasiun radio. Jadi radio AM menjadi trend setter anak muda," ungkapnya.
Sebagai anak muda tahun 80-an, siaran radio AM menjadi trend setter.
Lantaran banyak kegiatan hiburan, mulai dari musik hingga talkshow dapat didengarkan. Semasa sekolah, topik perbincangan anak muda tak jauh dari siaran.
Akan tetapi, transisi ke radio FM mulai terlihat di akhir 80-an.
Kejernihan suara, ditopang siaran hiburan yang beragam membuat pengguna mulai beralih.
Kendati memiliki kekurangan jangkauan, radio FM menyajikan kejernihan yang menarik pengguna.
Namun, kala itu masih banyak juga pengguna yang bertahan pada radio AM. Lantaran siaran radio FM kala itu dibatasi dengan tinggi tegangan tiang pemancaran.
Sehingga, jangkauan siaran tak meluas.
Alhasil, pengguna seperti Ngadiwon tak mau beralih ke radio FM. "Sampai sekarang masih ada beberapa siaran AM. Ada radio Konco Tani," ungkapnya. (gas/laz)
Editor : Winda Atika Ira Puspita