JOGJA - Fenomena menjamurnya warmindo di Yogyakarta bukan sekadar tren kuliner, melainkan dampak positif signifikan bagi perputaran ekonomi lokal.
Berawal dari warung bubur kacang hijau (burjo) yang dibawa perantau, warmindo kini telah berevolusi menjadi salah satu motor penggerak ekonomi di sektor informal.
Pengamat ekonomi dari Prodi Ekonomi Pembangunan FBE UAJY Y. Sri Susilo mengatakan, adanya warmindo di DIY ini memiliki dampak positif bagi perputaran ekonomi. Hal ini terlihat dari beberapa aspek kunci.
Menurutnya, warmindo adalah bukti nyata dari berkembangnya kewirausahaan di sektor informal. Sebab, para pelaku usaha ini tidak hanya menciptakan lapangan kerja untuk diri mereka sendiri, tetapi juga mempekerjakan orang lain.
Hal itu menjadi salah satu kontribusi utama dalam menyerap tenaga kerja, terutama bagi individu yang ingin mandiri secara ekonomi. "Jadi ini merupakan salah satu bentuk kewirausahaan," katanya, Jumat (12/9/2025).
Susilo juga mengatakan salah satu keunggulan warmindo adalah operasionalnya yang hampir selalu buka 24 jam.
Kehadiran mereka memenuhi kebutuhan makan mahasiswa dan masyarakat umum yang sering beraktivitas hingga larut malam atau dini hari.
Alhasil perputaran uang yang tanpa henti ini menjaga roda ekonomi untuk terus bergerak.
Seiring berjalannya waktu, menu yang ditawarkan juga semakin beragam. Warmindo kini tidak hanya menjual mi instan atau bubur kacang hijau saja, tetapi juga menyediakan nasi sayur, nasi goreng, hingga berbagai macam gorengan.
Maka dari itu, adanya warmindo dapat memperluas rantai pasok dan secara langsung melibatkan pemasok lokal seperti pedagang sayur, telur, dan bahan makanan lainnya. Meskipun skalanya terbilang kecil, kontribusi rutin ini sangat penting dalam menjaga distribusi produk tetap hidup.
"Ini tentu saja sangat positif untuk perputaran ekonomi masyarakat," jelas pria yang juga menjabat sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta itu.
Bagi Susilo, fakta menarik lainnya soal warmindo adalah sebagian besar pemiliknya menyewa kios atau warung.
Jarang sekali yang menggunakan warung tenda di pinggir jalan. Hal ini memberikan dampak ekonomi positif tambahan bagi masyarakat lokal, khususnya para pemilik properti.
Sebab dengan menyewa tempat, mereka turut menggerakkan sektor properti dan mendapatkan pendapatan sewa yang stabil.
Meskipun mayoritas pengelola warmindo berasal dari Jawa Barat, kini tak jarang semakin banyak warga lokal DIY yang juga mencoba peruntungan di bisnis serupa.
Fenomena ini menunjukkan bahwa model bisnis warmindo telah terbukti menguntungkan dan mudah diadopsi oleh berbagai kalangan.
Secara keseluruhan, dampak ekonomi dari menjamurnya warmindo di DIY dinilai jauh lebih besar manfaat positifnya dibandingkan negatifnya.
Usaha-usaha kecil ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari lanskap ekonomi Jogjakarta yang dapat membawa dampak signifikan bagi kesejahteraan masyarakat. "Kalau dari sisi negatifnya, saya rasa tidak ada," tandasnya. (ayu/laz)
Editor : Winda Atika Ira Puspita