Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Warung Burjo Dulu Cuma Jual Kacang Hijau, Kini Jadi Warmindo Tempat Nongkrong

Cintia Yuliani • Minggu, 28 September 2025 | 15:05 WIB

 

Andy Amrullah
Andy Amrullah

BANTUL - Warung burjo yang kini identik dengan warmindo lengkap menu mi instan dan gorengan, ternyata punya cerita panjang.

Dua warga Bantul, Antonius Sumariyadi, 49, dan Andy Amrullah, 55, mengisahkan pengalaman mereka menikmati burjo (bubur kacang ijo) di masa lalu, sebelum warung burjo berubah menjadi tempat nongkrong seperti sekarang.

Antonius, warga asli Sumbermulyo, Bambanglipuro, mengenang burjo tempo dulu yang hanya menyajikan bubur kacang hijau.

"Kalau burjo dulu itu hanya burjo saja. Kalau sekarang ada mi instan dan gorengan,” ujarnya saat dihubungi Jumat (12/9/2025).

Ia bercerita, semasa bekerja di Museum Sonobudoyo Jogja, dirinya terbiasa membeli burjo di Alun-Alun Utara.

Penjual berkeliling dengan gerobak kecil sejak pukul 06.30 pagi. “Itu enak, burjo juga bisa menambah stamina tubuh,” kenangnya.

Memori lain juga tertinggal dari masa kecilnya. Ia sering berkunjung ke Pasar Grogol. Di pasar itu, penjual burjo banyak ditemui, baik dengan tenggok kecil yang digendong maupun gerobak kecil yang membuat burjo selalu hangat.

“Saya sering beli burjo di Pasar Grogol sambil melihat burung pas zaman SD,” katanya.

Burjo kala itu dijual murah, hanya Rp 200 per mangkuk. Warung atau lapak sederhana biasanya buka sejak pukul 06.00 hingga 12.00 siang. Bahkan di sekolah-sekolah, burjo juga dijajakan setiap pagi.

“Kalau dulu menunya di sekolah yang paling sehat ya itu burjo. Sekitar umur 7 tahun saya sudah beli. Makanan favorit pas SD ya burjo. Satu mangkok sudah kenyang,” ucapnya.

Pengalaman serupa juga ia alami saat kuliah di Sekolah Tinggi Administrasi Notokusumo tahun 1996. Di tengah kampung tempat kampusnya berada, penjual burjo juga laris manis.

“Dulu pas kuliah belum jadi warmindo. Dulu baru burjo saja. Ada yang jual pakai sepeda, ada juga warung burjo,” ungkapnya.

Menurutnya, perubahan menu baru terjadi belakangan setelah ada perantau dari Jawa Barat yang memperkenalkan mi instan, gorengan, hingga menu tambahan lain di warung burjo.

Sementara itu, Andy Amrullah warga asli Kapanewon Kasihan, juga merasakan perbedaan besar antara burjo dulu dan sekarang.

Ia mengingat betul pengalaman membeli burjo tahun 1985 saat masih duduk di bangku SMA.

“Burjo dulu dengan sekarang sangat berbeda. Dulu bukan tempat nongkrong, tapi sekarang jadi tempat nongkrong,” ujarnya.

Kala itu satu porsi burjo hanya seharga Rp 30. Andy biasa membelinya pada malam hari di satu-satunya penjual yang berjualan di Jalan Tamansari.

"Dulu warung burjo hanya jualan burjo. Tidak seperti sekarang yang juga jualan warmindo,” katanya. (cin/laz)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Warmindo #bubur kacang ijo #burjo #Warung Burjo