Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ayu Jiwa, Komunitas Peduli Lingkungan Emak-Emak Bantul, Jadi Penggerak Pengolahan Sampah Akar Rumput

Agung Dwi Prakoso • Minggu, 21 September 2025 | 16:00 WIB

OLAH SAMPAH: Anggota Komunitas Peduli Lingkungan Ayu Jiwa yang berisikan ibu-ibu di Bantul saat mengolah sampah.
OLAH SAMPAH: Anggota Komunitas Peduli Lingkungan Ayu Jiwa yang berisikan ibu-ibu di Bantul saat mengolah sampah.


BANTUL - Sekelompok ibu-ibu rumah tangga asal Bantul membentuk komunitas peduli lingkungan dengan nama Ayu Jiwa. Mereka yang telah disibukkan dengan aktivitas rumah tangga nyatanya mampu menciptakan pergerakan yang dapat membantu mengatasi permasalahan sampah di DIY.

Komunitas itu dibentuk pada 2024. Beranggotakan inti delapan orang, mayoritas merupakan ibu rumah tangga asal Bangunjiwo, Bantul. Terbentuknya komunitas itu atas dasar keresahan yang sama, yakni sama-sama resah dengan permasalahan sampah di DIY. Pertemuan awal mereka saling berbagi pengolahan sampah dengan berbagai cara.

Baca Juga: Gunakan DAK Plus APBD, Gedung PLUT Sleman Ditargetkan Selesai 29 Oktober Mendatang

"Program kami berupa aksi dan edukasi pengolahan sampah rumah tangga dan diolah menjadi produk yang bermanfaat," ujar Ketua Komunitas Peduli Lingkungan Ayu Jiwa Yuanita Efhiliana kepada Radar Jogja Jumat (19/9).

Sekretariat komunitas tersebut berada di Wonotawang, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul. Mereka telah mempunyai banyak produk dari hasil pengolahan sampah yang dikumpulkan dari rumah-rumah di desa sekitar.

"Harapannya dengan produk itu bisa memberdayakan masyarakat dan menggerakan ekonomi sirkular dari pengolahan sampah," bebernya.

Baca Juga: Peringatan HUT ke-269 Kota Jogja Usung Tema Kebersihan Lingkungan, Hasto Wardoyo: Tak Ada Pawai dan Gerak Jalan

Komunitas tersebut mempunyai kegiatan rutin tiga kali pertemuan dalam seminggu. Mereka mengelola sampah untuk dibuat berbagai macam olahan. Sampah sisa sayur dijadikan kompos, sisa makanan untuk pakan maggot, kulit buah dijadikan eco enzyme dan minyak jelantah diolah menjadi sabun dan lilin.

"Kompos organik kami aplikasikan ke kebun sayur dan kami jual komposnya, hasil maggot kami jual ke peternak atau pemancing," paparnya.

Eco enzyme yang mereka buat, diolah kembali menjadi sabun mandi, deterjen, dan karbol. Baik cair maupun batang. Sampah anorganik tidak diolah, namun dikumpulkan dan dijual kepada pengepul.

Baca Juga: SMARTFREN Kini Hadir Semakin Luas di Indonesia 

"Di salah satu perlombaan, komunitas kami pernah masuk ke dalam empat tim penggerak terbaik se-Jogja," bebernya.

Hingga saat ini, modal mereka menjalankan program-program komunitas berasal dari swadaya anggotanya. Selain itu, mereka juga mendapatkan modal dari hasil pengolahan sampah yang terjual. Sampai saat ini belum ada pihak yang bekerjasama ataupun membiayai program-program dari komunitas tersebut.

"Terus ada tambahan dari insentif-insentif lomba maupun menjadi pembicara di sekolah-sekolah dan lainnya," jelasnya.

Baca Juga: Tampil di Busan International Film Festival 2025, Tampilan Fedi Nuril Bikin Salfok

Komunitas tersebut juga melakukan edukasi ke masyarakat melalui kelompok-kelompok seperti PKK, KWT, dan sebagainya. Harapannya, masyarakat bisa sadar bahwa sampah bisa diolah dan menghasilkan.

"Kami berharap pemerintah setempat dapat join dan bekerja sama dalam menjalankan program-program komunitas," ucapnya. (oso/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#minyak jelantah #Pengolahan Sampah #Bangunjiwo #komunitas #permasalahan sampah #sisa makanan #ibu-ibu #Bantul #Sampah #komunitas peduli lingkungan #rumah tangga #Kompos #Ayu Jiwa #Eco Enzyme #maggot