Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Komik Merebut Kota Perjuangan Dinilai Spesial bagi Penggemarnya, Selain Berwarna Juga Gunakan Riset Mendalam

Delima Purnamasari • Minggu, 7 September 2025 | 13:00 WIB

 

 

KESAN MEMBEKAS: Atmaja Septa Miyosa menunjukkan Komik Merebut Kota Perjuangan.
KESAN MEMBEKAS: Atmaja Septa Miyosa menunjukkan Komik Merebut Kota Perjuangan.
 

RADAR JOGJA - Komik dengan judul Merebut Kota Perjuangan barangkali asing terdengar bagi generasi muda zaman sekarang. Namun pada zamannya sekitar era tahun 90-an, bacaan ini disebut sebagai produk kreatif yang begitu spesial.

Salah seorang penggemar komik karangan Marsoedi dan kawan-kawan ini adalah Atmaja Septa Miyosa. Sebagai anak yang memiliki hobi membaca, dia ingat betul kali pertama meminjam komik ini di perpustakaan.

"Saya bawa pulang dan baca sampai tamat. Seneng banget karena berwarna dan kesannya membekas sekali," terangnya saat ditemui di Sekolah Tinggi Multi Media (STMM) MMTC Jogjakarta, Kamis (21/8) lalu.

Dosen MMTC ini menjelaskan, pada masa itu komik berwarna memang jarang ditemukan. Terlebih, komik ini dibuat oleh sederet ilustrator kawakan. Mulai Wid NS, Hasyim Katamsi, Hasmi, dan Djoni Andrean.

Septa menjelaskan, untuk cerita utamanya memang mengenai peristiwa Serangan Oemoem (SO) 1 Maret. Di dalamnya banyak menokohkan Soeharto dan Sri Sultan HB IX. Mulai dari jatuhnya bom atom Jepang, proklamasi, hingga datangnya tentara sekutu.

"Jadi di situlah Pak Harto tampil. Menceritakan kehidupannya. Termasuk istrinya yang merelakannya bergerilya melawan Belanda," tambahnya.

Baginya, hal yang spesial dalam komik ini adalah ceritanya berbasis riset. Tidak mengarang bebas. Untuk adegan di dalamnya juga diambil dari buku-buku sejarah. Misalnya untuk senjata yang digunakan, tank, bangunan, hingga adegan-adegan para prajurit.

Di bagian belakang komik juga terdapat berbagai gambar peta. Menunjukkan Jogja yang dibagi dalam beberapa sektor dan komando. Ini jadi bagian strategi untuk menguasai wilayah Jogja. "Riset yang meyakinkan ini bikin ceritanya hidup dan terasa tambah nyata," ungkapnya.

Laki-laki kelahiran Bumi Sembada ini bahkan secara sengaja mengoleksi komik Merebut Kota Perjuangan. Dia bahkan memiliki beberapa jenis cetakan. Mulai dari buku yang bersampul merah jingga, biru, hingga yang berukuran A4.

"Saya nemu buku ini di Shopping harganya Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu. Kalau ukuran besar Rp 40 ribu," tambahnya.

Dosen animasi ini juga bercerita dulunya ada pergantian sampul novel. Berupa seorang laki-laki yang membawa bendera Merah Putih. Lalu menusukannya ke bendera Belanda yang tercabik-cabik. Namun, akhirnya sampul ini digambar ulang tanpa bendera Belanda itu. "Saya punya file cover-nya saja. Kalau isinya sama," tambahnya.

Laki-laki kelahiran 30 September 1986 ini menyebut, komik ini adalah projek negara untuk propaganda nilai-nilai kebangsaan. Saat ini komik tidak lagi diproduksi. Kalau pun ingin dicetak ulang, tentu harus melalui izin kementerian terkait.

"Harus diakui kalau kemampuan pembuatnya pada zaman dulu enggak main-main. Bahkan mereka sampai vakum dari projek rutin mereka," tandasnya. (del/laz)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#karangan #MMTC #Sekolah Tinggi Multi Media #Atmaja Septa Miyosa #generasi muda #Komik #Produk Kreatif #sejarah #Merebut Kota Perjuangan #STMM MMTC #Jogjakarta #Sri Sultan HB IX