Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Komunitas Nakama Istimewa Yogyakarta, Berharap Film One Piece Tidak Segera Berakhir

Delima Purnamasari • Minggu, 10 Agustus 2025 | 16:00 WIB

 

KOMPAK: Kegiatan anggota Komunitas Nakama Istimewa Yogyakarta.
KOMPAK: Kegiatan anggota Komunitas Nakama Istimewa Yogyakarta.
 

JOGJAOne Piece bagi sebagian orang tidak sekadar film. Awal kemunculan petualangan sekelompok bajak laut pada tahun 1997 ini bisa menjadi obrolan serius bagi para peminatnya. Termasuk para anggota yang tergabung dalam Komunitas Nakama Istimewa Yogyakarta.  

Salah satu pengurus Nakama Istimewa Yogyakarta Tri Saputra menjelaskan, anggotanya mencapai 300 orang. Mayoritas adalah pelajar dan mahasiswa. Aktivitas mereka bisa dilihat lewat akun Instagram @nakamaisjogja.

 Baca Juga: Kesbangpol Mengimbau Masyarakat Bantul lebih Fokus pada Hari Kemerdekaan daripada Bendera one piece

Dia bercerita bahwa pembentukan komunitas ini sekitar 2013 atau 2014. Berawal dari obrolan saat kumpul-kumpul biasa. "Kumpul lalu ada obrolan soal One Piece dan ternyata banyak yang suka. Lama-lama berkembang dan terbentuklah komunitas," ungkapnya saat ditemui usai diskusi mengenai film One Piece Kamis (7/8) malam. 

Saat diumumkan secara terbuka soal pembentukan komunitas ini ternyata peminatnya semakin banyak. Hingga akhirnya berkembang sampai saat ini. "Kalau dulu awalnya bernama One Piece Indonesia Distrik Yogyakarta," tambahnya. 

 Baca Juga: Siap Jalani Kompetisi Panjang BRI Super League, Mental dan Mindset Pemain Jadi Sorotan Penting Van Gastel di PSIM Jogja

Laki-laki asal Palembang ini menjelaskan, kegiatan utama mereka adalah kopi darat dan kopi santai. Kegiatan semacam ini rutin dilakukan. Utamanya untuk membahas serial manga yang terbit seminggu sekali. 

Kegiatan yang dilakukan setiap malam Minggu itu jadi ajang untuk para anggota adu teori. Mulai dari yang menggunakan analisis pribadi hingga teori akademis. Tujuannya adalah untuk membedah makna-makna tersirat dalam setiap adegan yang ditampilkan. 

 Baca Juga: Dampaknya Sangat Mengganggu Masyarakat, PWM Minta Aparat Penegak Hukum Perketat Peredaran Miras di Yogyakarta

Tri menyebut, banyak kesamaan cerita dengan kehidupan nyata. Hal ini menjadikan One Piece memiliki kedekatan secara personal dengan penikmatnya. Baik itu dari alur cerita maupun karakternya yang banyak masuk akal. 

 

"Tokoh yang dibilang pelindung malah menghancurkan. Bajak laut yang dicap jelek ternyata jadi pahlawan sejati," katanya.

 

Laki-laki yang mengaku mengikuti One Piece sejak SMP ini menyebut, hingga saat ini belum ada hilal kapan karya Eiichiro Oda akan tamat. Dia harap justru masih banyak episode yang bisa dinanti. "Doanya jangan cepet-cepet selesai. Nanti kami ngapain kalau One Piece enggak ada," katanya. 

 Baca Juga: Dampaknya Sangat Mengganggu Masyarakat, PWM Minta Aparat Penegak Hukum Perketat Peredaran Miras di Yogyakarta

Disinggung soal penggunaan lambang One Piece sebagai lambang keresahan sampai viral di media sosial, dia tidak mau banyak berkomentar. Namun, Tri menilai One Piece hanyalah anime. Bukan gerakan untuk menghancurkan negara. 

 

"Kami juga tidak mungkin mau makar. Anggota saja hanya anak kuliah, skripsi banyak yang belum kelar," kelakarnya. (del/eno) 

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#komunitas #Komunitas Nakama Istimewa Yogyakarta #pelajar abg #one piece #Mahasiswa 25 Tahun