JOGJA - Di tengah hiruk pikuk modernitas dan percepatan hidup, pemandangan orang beraktivitas dengan sepeda atau glidhig seolah membawa kita kembali ke masa lampau.
Dosen sosiologi dari UNY Grendi Hendrastomo menyoroti fenomena ini sebagai cerminan adaptasi manusia terhadap teknologi yang berkembang pada saat itu.
Menurutnya, aktivitas bersepeda yang jamak dilakukan oleh masyarakat zaman dulu tidak lepas dari ketersediaan teknologi yang ada pada masanya. Sebab, setiap zaman pasti memiliki cara uniknya sendiri dalam beradaptasi.
Dulu sepeda jadi sarana transportasi utama yang efisien dan banyak digunakan, bahkan untuk perjalanan jauh seperti dari Bantul ke Jogja.
Kisah para pencari nafkah yang wajahnya menghitam separo karena menempuh perjalanan jauh dengan sepeda, menjadi gambaran nyata dedikasi dan adaptasi mereka terhadap kondisi yang ada itu.
"Cerita itu dulu kan terkenal kalau orang cari uang dari Bantul ke Kota Jogja kok mukanya hitam separo," jelasnya, Jumat (13/6/2025).
Seiring berjalannya waktu, pergeseran teknologi menjadi tidak terhindarkan.
Kehadiran sepeda motor dan mobil, secara bertahap menggantikan peran sepeda sebagai moda transportasi dominan.
Masyarakat berbondong-bondong beralih ke kendaraan bermotor yang menawarkan kecepatan dan kenyamanan.
Namun, fenomena ini, menurut Grendi, tidak mengakhiri cerita dari sepeda.
Glidhig dalam pemaknaan Grendi kini memang sudah menjadi tren, eksistensi, dan slow living dari masyarakat.
Menariknya, di era digital ini aktivitas glidhig kembali muncul ke permukaan dengan makna dan motivasi yang berbeda.
Pertama, fenomena glidhig saat ini dimaknai sebagai tren dan memunculkan eksistensi diri.
Sebab saat ini sedang marak munculnya komunitas dan hobi motor antik, yang secara tidak langsung turut membangkitkan minat terhadap sepeda-sepeda kuno.
Masyarakat cenderung mengikuti tren yang sedang berkembang sebagai bentuk ekspresi dan untuk menunjukkan identitas diri.
"Karena orang saat ini mengikuti tren dan memunculkan eksistensi diri," jelasnya.
Kedua, fenomena glidhig saat ini juga dimaknai oleh Grendi sebagai bentuk perlawanan terhadap percepatan.
Di tengah budaya modern yang serba cepat dan menuntut efisiensi tinggi, glidhig menjadi simbol dari gaya hidup slow living.
"Masyarakat ini seakan-akan melawan percepatan. Karena hari ini semuanya berlomba-lomba serba kencang atau mencapai sesuatu dengan cara yang cepat. Sehingga itu dilawan dengan melakukan slow living," katanya.
Fenomena glidhig di Yogyakarta adalah perpaduan menarik antara nostalgia masa lalu, adaptasi terhadap tren modern, dan perlawanan terhadap budaya serba cepat.
Ini menunjukkan bagaimana sebuah objek sederhana seperti sepeda dapat memiliki makna yang kompleks dan berubah seiring dinamika sosial dan perkembangan zaman.
"Tapi di satu sisi orang-orang yang bisa melakukan itu adalah orang-orang yang secara kebutuhan finansial sudah terpenuhi. Kalau dulu orang punyanya ini, ya dia seperti itu," lontarnya.
Terpisah, pakar sosiologi dari Universitas Widya Mataram Jogja Mukhijab menjelaskan, perilaku glidhig merupakan suatu peralihan adaptasi manusia zaman dulu yang awalnya dari berjalan kaki hingga beralih ke sepeda onthel.
Sebab, generasi awal nenek moyang kita zaman dulu hidup secara alami dan bersahabat dengan alam.
Sehingga pada saat ini mereka tidak ragu untuk berjalan kaki puluhan kilometer demi mencapai tujuan mereka.
Lalu, generasi awal inilah yang melahirkan anak cucu yang hidup dalam kebudayaan yang lebih maju dan mengenal teknologi. Pada titik inilah sepeda onthel atau glidhig mulai dikenal.
"Mereka mulai enggan berjalan. Sepeda ontel mereka gunakan untuk menjangkau daerah tujuan," ungkapnya.
Kehadiran sepeda ini menandai sebuah revolusi mobilitas yang sederhana namun signifikan.
Sepeda glidhig memungkinkan manusia menjangkau tempat-tempat yang lebih jauh dalam waktu yang relatif singkat dibandingkan berjalan kaki.
Namun di saat yang sama, kemunculan teknologi sederhana ini juga menumbuhkan ketergantungan.
Mukijab menggarisbawahi, meski masih aktif bergerak, fisik generasi kedua ini tidak sekuat generasi pertama yang terbiasa menempuh jarak jauh hanya dengan kedua kaki mereka.
"Mereka tidak mau lagi berjalan. Ke mana mana dengan kendaraan. Mereka menjadi lemah," tambah dosen yang mantan wartawan ini. (ayu/laz)
Editor : Winda Atika Ira Puspita