JOGJA - Glidhig yang dulu diidentikkan dengan bersepeda beriringan untuk berangkat kerja di kawasan Yogyakarta, kini sudah jarang ditemui.
Padahal pada masa lalu ketika sepeda motor belum menjamur, iring-iringan orang naik sepeda di pagi hari dan sore hari, banyak ditemui di jalanan.
Pagi hari banyak orang bersepeda melaju beriringan karena akan berangkat kerja.
Ini bisa dilihat di jalan pinggiran kota seperti Bantul, Sleman menuju pusat kota di Jogja.
Demikian pula saat sore hari, iring-iringan pesepeda orang pulang kerja bisa dilihat dari jalanan Kota Jogja menuju daerah atau kabupaten di sekitarnya.
Banyaknya orang yang menggunakan sepeda onthel sebagai sarana transportasi sebelum era tahun 2000-an, menjadikan Jogja juga dikenal sebagai kota sepeda.
Iring-iringan seperti reli sepeda, bahkan sampai sulit distop ketika lampu bangjo (traffic light) sudah berganti menyala merah dari hijau. Pemandangan itu kini sudah tidak ditemui lagi.
Tapi, di tengah marak penggunaan kendaraan bermotor, masih ada warga Bantul yang setia memanfaatkan sepeda onthel lawas sebagai sarana untuk mencari nafkah.
Mereka adalah Jomulyo, 57, warga Kapanewon Srandakan dan Giyono, 80, warga Kapanewon Kasihan.
Sepeda onthel bukan sekadar alat transportasi bagi Jomulyo. Ada kenangan dan filosofi hidup yang ada di sepeda onthelnya. Jomulyo sudah menggunakan sepeda onthel sejak masa sekolah di Bantul.
"Tahun 1986 saya beli sepeda seharga Rp 48 ribu. Uangnya dari beasiswa Supersemar Rp 200 ribu yang saya dapat tahun 1985," jelasnya saat ditemui di warungnya, Jumat (13/6/2025).
Beasiswa itu sangat berarti bagi Jomulyo. Ia mengaku hanya siswa berprestasi ranking 1 sampai 3 yang bisa mendapatkan bantuan tersebut. Ia sendiri ranking dua saat duduk di bangku SMK yang ada di Bantul.
“Kalau sekarang kan siswa nggak mampu malah diberi beasiswa. Dulu tergantung kepintaran,” ungkapnya.
Karena kenangan itu pula, sepeda onthelnya enggan ia jual meski ada yang menawar hingga Rp 500 ribu.
Bahkan meski sudah punya motor sejak 1997, Jomulyo lebih memilih menggunakan sepeda untuk aktivitas harian, termasuk jualan.
Dulu ia menggunakan sepeda onthel untuk berjualan telur asin. Ia membeli telur asin dari Kulon Progro, lalu dijual di Pasar Beringharjo, Jogja. Jarak tempuhnya bisa mencapai 100 kilometer per hari.
Namun, sekarang ia berganti profesi menjadi pedagang di warung kontrakan miliknya yang hanya berjarak 100 meter dari rumah. Ia berjualan soto dan lotek bersama istrinya, mulai pukul 08.00 hingga 13.00. Pada malam hari setelah magrib, ia menjual nasi goreng.
Sepeda onthelnya masih digunakan untuk mengantar pesanan soto, lotek, maupun nasi goreng. Bahkan ia biasa mengantarkan pesanan sampai jarak 3 km dari warungnya.
"Biasanya kalau hujan banyak yang pesan lewat WhatsApp,” jelasnya.
Baginya, sepeda onthel justru lebih ekonomis dibanding motor. Jika motor harus punya SIM, bensin, dan biaya servis yang relatif mahal. Sedangkan sepeda hanya pakai tenaga dan biaya servisnya relatif lebih murah.
Ia juga memberikan tips agar sepeda onthelnya tetap awet meski sudah berumur 39 tahun.
"Merawatnya cukup dilap dan dipakai tiap hari. Kalau jarang dipakai malah cepat rusak," ujarnya.
Senada dengan Jomulyo, Giyono juga tetap setia menggunakan sepeda onthel. Di usianya yang telah menginjak 80 tahun, pria asal Kasihan itu masih aktif mencari rongsok untuk dijual kembali.
"Sejak 1984 saya cari rongsok sampai ke Godean, Sleman menggunakan sepeda onthel,” ungkap Giyono.
Ia biasa berkeliling mulai pukul 07.00 atau 08.00 pagi hingga pukul 14.00.
Wilayah pencariannya cukup luas, dari sekitar rumahnya hingga ke Universitas PGRI Yogyakarta. Barang yang ia kumpulkan, antara lain, kardus dan plastik.
"Kadang dikasih warga, kadang ambil dari tong sampah. Kalau beli Rp 1.500 per kilogram, jualnya sekarang turun, cuma Rp 1.800," keluhnya.
Jenis sepeda onthel yang ia pakai sekarang merek Royal, hasil pembelian bekas seharga Rp 300 ribu setahun lalu.
Sepeda yang digunakan kini adalah sepeda keempat, setelah tiga sebelumnya rusak dan salah satunya hilang.
Walaupun telah ada transportasi yang lebih mudah dan cepat, salah satunya motor, ia tetap memilih menggunakan sepeda onthel untuk bekerja.
"Saya nggak suka naik motor. Motor dari anak saya pun nggak saya pakai. Lebih nyaman naik sepeda," ungkapnya. (cr2/laz)
Editor : Winda Atika Ira Puspita