Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Herry Zudianto Sebut Lunturnya Budaya Bersepeda di Jogja karena Tidak Adanya Keteladanan

Delima Purnamasari • Minggu, 15 Juni 2025 | 13:30 WIB

 

 

ASYIK: Herry Zudianto saat bersepeda di Jalan Prawirotaman, Kota Jogja.   
ASYIK: Herry Zudianto saat bersepeda di Jalan Prawirotaman, Kota Jogja.  

JOGJA - Yogyakarta juga dikenal sebagai Kota Sepeda. Hal ini lantaran pada masa lalu sepeda menjadi transportasi utama untuk bekerja maupun bersekolah.

Salah seorang tokoh yang lekat dengan transportasi ini adalah Herry Zudianto. Wali Kota Jogja periode 2001-2006 dan 2006-2011 ini merupakan penggagas dari gerakan Sepeda Kanggo Sekolah lan Nyambut Gawe (Sego Segawe).

"Saya ingat sejak kecil bersepeda di Jogja itu enak dan tidak nanjak turun. Lewat jalan kampung juga enak," katanya kepada Radar Jogja.

Saat itu dia menyebut ada beragam macam sepeda yang digunakan. Salah satu yang umum digunakan memang sepeda onthel.

"Ada pengaruh psikologis. Panas tapi karena memang banyak orang yang bersepeda jadi mau. Beda kalau harus sendiri," katanya.

Herry berpandangan, penggunaan sepeda saat itu juga mengurangi kesenjangan sosial dan sikap hedonisme. Di sisi lain, hal ini berdampak baik bagi kesehatan tubuh.

"Terutama sebenarnya untuk anak sekolah. Jadi tidak kebut-kebutan dan pamer ketika ke sekolah," tambahnya.

Semangat itulah yang dulu melatarbelakanginya untuk membuat program Sego Segawe. Termasuk untuk memberikan dampak pada lingkungan hidup yang lebih baik.

"Setiap Jumat malam minggu terakhir itu ada JLFR (Jogja Last Friday Ride) untuk menikmati indahnya Jogja," katanya.

Baca Juga: FKPT Belum Dilibatkan Tangani Sampah Liar di Kota Jogja, Satpol PP Diminta Beri Wewenang Forum Kampung untuk Mengatasi Masalah Sampah

Sayangnya, budaya bersepeda untuk bekerja maupun bersekolah ini sudah jarang ditemukan.

Herry menyebut karena masyarakat belum merasa memiliki dan absennya tokoh yang bisa digugu.

Sepeda dianggap belum jadi kebutuhan menjadi alat transportasi.  "Tidak ada sosok yang menyemangati untuk memberi keteladanan, jadi hilang," tambahnya.

Meski demikian, dia optimistis budaya ini bisa dikembalikan lagi. Salah satunya dengan diberikan fasilitas, seperti petunjuk jalan alternatif untik pesepeda.

Ketika mereka diarahkan ke wilayah perkampungan juga diyakini akan berdampak positif pada ekonomi setempat.

"Tentu kalau sekarang tidak harus bicara setiap hari. Setidaknya ketika memang jaraknya memungkinkan," tandasnya. (del/laz)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Sego Segawe #Kota Sepeda #Yogyakarta #Budaya Bersepeda #Herry Zudianto