Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Istilah Metek, saat Angin Kencang Anak-Anak Balong Terbangkan Layangan di JJLS

Yusuf Bastiar • Sabtu, 7 Juni 2025 | 03:33 WIB
Ilustrasi Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS).
Ilustrasi Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS).

 

 

 

GUNUNGKIDUL - Kemarau sudah datang, bocah-bocah Dusun Piji Kalurahan Balong Kapanewon Girisubo menyambutnya dengan bermain layang-layang. Belasan anak-anak mulai berkumpul di bahu Jalan Jalur Lingkar Selatan (JJLS) arah Tepus - Jerukwudel.

 

Dafa Rizky menerbangkan layang-layang kecil miliknya. Sebelumnya, bocah 14 tahun ini terlebih dahulu mengecek arah mata angin. Ketika angin berhembus ke arah utara, Dafa langsung mengambil ancang-ancang untuk menerbangkan layangan miliknya.

Dibantu oleh satu orang bertugas untuk metek layangan. Dafa langsung menarik layangan, dan tentu mudah saja dirinya menerbangkan layangan tersebut. “Satu, dua, tarik,” ujar Arif Setiawan sebagai pemetek Rabu, (4/6).

 Baca Juga: Siap Sambut Momen Liburan Sekolah, Dispar Sleman Prediksi Belanja Wisatawan Bisa Tembus Rp 1,2 Triliun: Kunjungan Capai 450 Ribu Orang

Di Girisubo sendiri, istilah metek digunakan untuk seorang yang bertugas memegang layangan sebelum ditarik untuk diterbangkan. Berlanjut, Arif berteriak “tarik” sembari loncat ke arah atas sekaligus menghempaskan layangan. Dafa tak perlu mengecek kondisi jalanan apakah ramai atau sepi. Sebab, layangan miliknya berukuran kecil.

 

Tak cukup menggunakan satu senar. Dafa justru mendobel dua senar layangan miliknya. Bocah itu takut jika senar layangannya tak didobel akan putus terhempas angin. Menurut Dafa, angin pantai selatan di musim kemarau sangat kencang. Sehingga, jika hanya menggunakan satu senar aja biasanya layangan akan terbang bebas karena senar terputus angin.

 

“Angin di atas sana bisa memutuskan senar,” ujar Dafa.

 Baca Juga: Usai Pertahankan Pieter Huistra PSS Sleman Kini Berburu Pelatih Lokal, Ada Seto hingga Kahudi

Tak berselang lama, datanglah tiga layangan berukuran besar. Kira-kira, menurut Dafa tiga layangan milik teman-teman itu berukuran dua meteran lebih. Dafa mengaku jika layangan besar tersebut dibuat mandiri secara bersama-sama.

Dafa menceritakan mulanya dia harus terlebih dahulu mencari bambu. Lalu, diukur, dibelah, dan di haluskan sisi-sisinya. Baru setelah itu ia membeli plastik sebagai bahan utama membuat layangan. 

 

“Yang besar-besar ini kita buat sendiri lo,” ujar Dafa.

Setelah bercerita, Dafa langsung menengok ke sisi kanan dan kiri jalan JJLS. Ketika dirinya sadar jalanan sepi, Dafa langsung memberi aba-aba ke temanya agar lekas menerbangkan layang-layang.

Berbeda dengan Dafa, Muhammad Andi, mengambil ancang-ancang sekitar 30 meter dari layangan besar miliknya. Dengan menggunakan benang dadung ukuran 3 mili layangan itu ditarik. Menurut Andi, jika layangan yang berukuran kecil saja harus didobel senar, apalagi layangan besar. Menurut Andi, benang dadung digunakan karena ukurannya tidak terlalu besar, tapi juga kuat untuk menarik layangan.

 

“Tidak bakal putus kalok benang ini,” ujar Andi. 

 

Kemudian, satu-persatu layangan mulai diterbangkan. Dafa, Andi dan teman-temannya fokus memperhatikan layangan yang terbang menutupi awan. Meski begitu, bocah-bocah ini tetap bersenda gurau. Sesekali mereka bercerita tentang pengalamannya seharian ini di sekolah.

Menurut Dafa, anak-anak di Dusun Piji akan bermain layangan sampai pukul 16.30. Sebab, mereka harus lekas pulang ke rumah. Jika tidak, bocah-bocah ini akan dijemput oleh orang tua mereka. (cr1)

 

Editor : Heru Pratomo
#layang-layang #kemarau #JJLS #Gunungkidul #Girisubo #Balong