Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Budayawan Sebut Jajanan Legomoro Punyai Nilai Luhur dan Diperkirakan Sudah Ada sejak Era Kerajaan Mataram

Adib Lazwar Irkhami • Minggu, 4 Mei 2025 | 15:05 WIB

 

 

Achmad Charris Zubair, Budayawan asal Kotagede.
Achmad Charris Zubair, Budayawan asal Kotagede.

 

JOGJA - Kotagede menjadi salah satu wilayah di Kota Jogja yang menyimpan banyak peninggalan bersejarah.

Selain cagar budaya peninggalan Kerajaan Mataram, di Kotagede juga terdapat makanan khas turun-temurun yang sudah melegenda sejak masa lampau.

Di Kotagede sendiri memiliki beberapa kuliner khas seperti kue banjar, yangko, dan kue kembang waru. 

Namun tak sedikit juga yang sudah mengetahui di daerah kawasan yang memiliki julukan Kota Perak itu juga mempunyai makanan khas yang lain yakni legomoro. 

Legomoro merupakan jajanan serupa dengan lemper atau makanan yang berasal dari ketan dengan isi daging yang dibungkus daun pisang.

Namun yang membedakan cara membungkusnya. Jika lemper dengan daun pisang dan lidi di sisi kanan dan kiri seperti halnya lontong, legomoro memakai daun pisang yang diikat tali bambu. 

Menurut budayawan asal Kotagede  Achmad Charris Zubair, makanan legomoro itu merupakan makanan khas Kotagede yang terbilang sangat spesial dibandingkan makanan-makanan khas yang lain.

Sebab, umumnya legomoro itu disajikan oleh orang-orang ketika ada suatu pesta seperti pernikahan dan hajatan besar lainnya.

"Legomoro itu sendiri maknanya lego berarti senang hatinya, moro itu datang. Jadi ketika datang harapan ketika disuguhi itu, tamu bisa senang hatinya," ucapnya kepada Radar Jogja, Rabu (30/4/2025).

Baca Juga: Margodadi Disiapkan Jadi Sekolah Rakyat Jenjang SMP di Sleman: Belum Final, Masih Proses Pengajuan Proposal Lokasi

Charris menjelaskan, pada umumnya kuliner itu juga suatu karya budaya yang tidak bisa dilepaskan dari subsistem dari kebudayaan lain.

Sehingga legomoro  memiliki nilai budaya di tengah masyarakat Kotagede. Karena di dalam masyarakat, legomoro bisa menujukkan nilai-nilai luhur.

Legomoro yang biasanya disuguhkan kepada tamu terhormat itu memiliki simbol dengan ikatan empat.

Itu melambangkan terikat dengan dimensi ketuhanan, dengan dimensi manusia yang lain, dengan lingkungan alam, dan terikat harmoni dengan diri sendiri. 

 "Orang Jawa itu kan mempunyai bahasa simbolik yang cukup kuat. Mengekspresikan karya-karya budaya dengan cukup kuat melalui bahasa simbolik," cetus dosen purna tugas dari Fakultas Filsafat UGM ini. 

Charris juga menyebutkan jika makanan legomoro itu sudah menjadi budaya turun-temurun dan ciri khas masyarakat Kotagede sejak ribuan tahun lalu.

Diperkirakan kemunculan legomoro itu sendiri sudah sejak kerajaan Mataram masih berdiri.

Sebab, bagaimanapun juga yang namanya kuliner, selain disesuaikan dengan nilai budaya dan pandangan hidup, juga tergantung dari bahan makanan yang terdapat di lingkungan sekitar masyarakat.

Makanya orang-orang zaman dahulu bisa menciptakan kuliner yang selain bisa bikin makna simbolik, tapi bahannya juga bisa didapat di lingkungan sekitar. 

"Di masa lalu ketan yo gampang, ayam juga ada, daun pisang juga ada. Tali yang terbuat dari bambu juga gampang. Maka legomoro itu pasti sudah ada sejak zaman Mataram," cetus Charris. (ayu/laz)

 

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Legomoro #Era Kerajaan #Budayawan #mataram #jajanan tradisional