RADAR JOGJA - Sempat berjaya di tahun 80-an hingga 90-an, eksistensi piring enamel kembali bangkit di penghujung 2020. Piring berbahan seng dengan balutan porselin enamel ini, seakan menjadi perabot yang harus dimiliki setiap rumah di eranya.
Pemilik Dapur Asam Sukamto menceritakan eksistensi piring enamel di zamannya. Penjual perabot enamel ini menyampaikan, di era 80-an perabot berbahan besi dengan enamel berupa teko dengan corak lurik hijau.
Di penghujung 80-an, muncul piring enamel yang justru sangat laku di pasaran. "Lakunya karena harga piring keramik mahal dan mudah pecah," ucap Sukamto saat ditemui Radar Jogja di kediamannya, Jumat (24/1/2025).
Ia menyampaikan, piring enamel langsung merajai pasar dalam sekejap. Lantaran saat itu kebanyakan piring berbahan keramik dengan balutan porselin yang memiliki harga cukup tinggi. Munculnya piring enamel menjadi angin penyegar bagi rumah tangga. Saat itu, harga piring enamel bisa lebih murah 50 persen dari harga piring keramik.
Selain harganya yang murah, metode penyimpanan juga mempermudah pemilik. Pasalnya, piring enamel tak mudah pecah walaupun ditumpuk. Sedangkan piring keramik memerlukan perhatian khusus, baik cara menyimpan hingga meletakkan dibutuhkan alas agar tak pecah. "Perawatannya lebih mudah. Hanya saja piring enamel pasti kalah dengan karat," ucapnya.
Kendala perawatan piring enamel berkaitan dengan usia pemakaian. Jika piring enamel disimpan terlalu lama, di ruangan lembab maka akan berpotensi terkorosi karat. Kasus ini, sering ditemui pada piring enamel yang disimpan menggunakan lapisan kardus. Karat bisa ditemui di sepanjang lpinggir piring ataupun bagian tengah. Sebenarnya, penyimpanan piring enamel tak membutuhkan perlakuan khusus. Pemilik hanya harus meluangkan waktu untuk melihat kondisi dan membersihkan piring.
Karat pada piring enamel bisa terjadi karena bahan dasarnya. Piring enamel terbuat dari lempengan besi putih yang ditekan menggunakan cetakan piring. Kemudian dicelupkan di lapisan enamel selama beberapa kali. Proses pencelupan juga menggunakan metode cetak motif. Sehingga piring ini identik dengan gambar bunga. "Mulai ditinggal saat muncul piring plastik, kembali lagi faktor harga," ucapnya.
Di awal 2000-an, piring enamel mulai ditinggalkan. Munculnya piring berbahan plastik menjadi alasannya. Kebanyakan pasar memilih piring dengan harga murah. Sehingga, lama kelamaan piring enamel mulai ditinggalkan.
Namun, eksistensi piring enamel kembali hadir di awal 2015, dan memuncak di awal 2020. Saat itu, banyak peminat piring enamel yang bermunculan. Mereka ingin merasakan kembali nostalgia dengan barang produksi keluaran lama. "Ya karena nostalgia saja. Tidak berpengaruh ke rasa," ucapnya.
Sukamto menyampaikan, penjualan piring enamel naik saat pandemi Covid-19. Bahkan pasca-pandemi itu banyak pengunjung yang hendak membeli enamel di tokonya. Kebanyakan dari mereka memang ingin merasakan kembali suasana tempo dulu.
Sebagai penjual enamel, Sukamto memiliki dua jenis piring enamel yang dijual, yaitu piring keluaran lama dan keluaran baru. Keduanya memiliki perbedaan yang jelas. Piring keluaran lama diproduksi pada tahun 80-an. Sedangkan piring keluaran baru diproduksi tahun 2000-an ke atas. "Keluaran lama lebih bagus kualitasnya, tetapi harganya bisa dua kali lipat," ucapnya.
Sukamto menyampaikan, piring keluaran lama memilik ketebalan dan berat yang lebih tinggi dibanding keluaran lama. Tentunya hal ini akan berpengaruh pada masa pakai. Biasanya piring keluaran baru akan bertahan maksimal tiga tahun. Sedangkan keluaran lama akan bertahan puluhan tahun.
Hal inilah yang membuat harga piring keluaran terbaru lebih mahal. Satu piring keluaran terbaru dihargai Rp 30 ribu dan keluaran Rp 15 ribu. Harga ini juga dipengaruhi kesediaan stok barang lama yang dikeluarkan. "Kebanyakan enamel keluaran Kedawung Surabaya, Jadi mencari di sana," ucapnya.
Sukamto menyampaikan, untuk membedakan keluaran lama ataupun baru, pembaca dapat melihat karakteristiknya. Piring lama akan memiliki bobot lebih berat. Selain itu, motif piring lama seperti cat, berbeda dengan keluaran baru yang terkesan seperti hasil cetakan printing. (gas/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita