Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tabloid Bias, Produk Diklat Jurnalistik Siswa SMA sebelum Tahun 2000-an

Agung Dwi Prakoso • Minggu, 24 November 2024 | 15:00 WIB

 

 

Cetakan tabloid Bias
Cetakan tabloid Bias

JOGJA - Sekitar tahun 90-2000-an di DIY sempat beredar sebuah tabloid berisi tentang berita remaja dan dinamika sekolah. Tabloid Bias (Bina Aktvitas Siswa) namanya, yakni kumpulan karya jurnalistik dari para siswa tingkat sekolah menengah atas (SMA) dan SMEA atau yang saat ini dikenal dengan SMK.

"Dalam satu tahun, tabloid itu dicetak empat kali, kira-kira diterbitkan setiap setengah semester," ujar salah seorang anggota redaksi tabloid Bias, Kusno Setyo Utomo saat dihubungi Radar Jogja (16/11/2024).

Walaupun hanya empat tahun menjadi bagian di redaksi itu, Kusno termasuk tim generasi awal cetakan tabloid tabloid Bias. Ia mulai masuk pada tahun 1995-1999.

"Saya ingat betul, cetakan pertama diluncurkan 28 Oktober 1995 di Pendapa Wiyata Praja, Kompleks Kepatihan Jogjakarta berbarengan dengan Hari Sumpah Pemuda," tuturnya.

Lahirnya tabloid Bias merupakan inisiasi dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) DIY, yang saat ini telah dipisah menjadi dua dinas di bawah Pemprov DIY. Dinas itu berwenang mengurusi urusan di tingkat pendidikan sekolah dasar (SD). Namun Dinas P dan K mempunyai program bernama pendidikan luar sekolah untuk generasi muda.

"Inisiator program Pak Bambang Wisnu, yang dulu menjadi kepala Seksi Perencanaan Program Dinas P dan K," bebernya.

Terdapat dua program yang lahir. Pertama, Loka Karya Teater pada tahun 1992 serta Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Jurnalistik pada 1994. Kusno yang saat itu masih duduk di bangku kelas dua SMA pun mengikuti seluruh program bentukan Dinas P dan K itu. "Tabloid Bias itu menjadi salah satu produk hasil dari program Diklat Jurnalistik," tambahnya.

Diklat jurnalistik diikuti seluruh SMA/SMEA di DIY. Para peserta diklat akan mengikuti semacam workshop di daerah Kalasan, Sleman selama tiga hari. Para pengajar Diklat Jurnalistik pun merupakan wartawan senior yang tergabung dalam Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) DIY. "Ada YB Margantoro, Okto Lampito, Nisbi Sabakingkin dan almarhum AL Maryadi," ingatnya.

Setelah selesai diklat, para peserta akan menjadi kontributor penulis dan sebagian pengurus keredaksian tabloid. Kantor penerbitan menjadi satu dengan Kantor Dinas P dan K. Kantor terletak di Kompleks Kepatihan Jogjakarta yang saat ini menjadi ruang Sekprov DIY.

Kusno mengingat beberapa teman redaksi angkatanya yang dulu sempat bekerja dalam satu ruangan. Nama-nama itu, di antaranya, Febriyanto Laksana Putra Hidayat, Radiyanti, Tutut, Endah, dan Sofiyati.

"Tugas kami menentukan liputan, menentukan isu yang nanti diikuti oleh para kontributor penulis. Tapi kami juga ikut nulis," ujarnya.

Ia bersama timnya hanya melakukan pertemuan sekali dalam sepekan yakni di hari Jumat untuk melakukan rapat di kantor. Selain itu, mereka juga menerima naskah-naskah yang dibuat oleh siswa-siswa sekolah se-DIY.

Alih-alih menggunakan e-mail, zaman itu belum familiar komputer. Naskah yang dikirim masih banyak dalam bentuk kertas dengan mesin ketik manual.

"Ada juga yang kirim lewat amplop dan disket," tuturnya. Kumpulan naskah itu nantinya akan dipilih dan dikurasi oleh tim tabloid Bias. Setelah dicetak, tabloid dibagikan ke setiap sekolah di DIY. "Karena sifatnya laboratorium, jadi ya gratis," katanya. (oso/laz)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#SMK #Pemprov DIY #persatuan wartawan indonesia (pwi) #Bina Aktivitas Siswa #Kusno Setyo Utomo #Sekolah Dasar (SD) #diterbitkan dan disampaikan oleh LPTK #Diklat #Tingkat #jurnalistik #Cetakan Pertama #inisiator #Siswa #YB Margantoro #generasi muda #dipisah #remaja #Kompleks Kepatihan Jogja #Dinamika #DIY #karya #program #SMA #Sekolah #kumpulan #dinas pendidikan dan kebudayaan #sekolah menengah atas #Semester #Tabloid Bias #Tabloid #SMEA