Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Majalah Candra, Gembira, dan Bias Terbitan Disdikpora DIY Sempat Hiasi Blantika Literasi

Elang Kharisma Dewangga • Minggu, 24 November 2024 | 14:40 WIB

 

Majalah Candra terbitan Disdikpora DIY yang sempat menghiasi blantika literasi
Majalah Candra terbitan Disdikpora DIY yang sempat menghiasi blantika literasi
 

JOGJA - Majalah Candra sempat menghiasi blantika literasi DIY. Kini tinggal kenangan karena sudah tidak lagi terbit. Sebarannya yang ke sekolah-sekolah saat itu, membuat banyak generasi sangat akrab dengannya.

Eks Pemimpin Redaksi Majalah Candra Praba Pangripta mengatakan, ini adalah majalah pendidikan yang diterbitkan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) DIY. Menurutnya, semasa masih memimpin pada 2012 dimintakan ke LIPI untuk mendapat International Standard of Serial Number (ISSN). Sasarannya pembaca para guru SD, SMP, dan SLB di DIY.

Diterbitkan memakai APBD DIY sehingga tidak dijual bebas, namun diberikan gratis kepada sekolah-sekolah itu. “Majalah Candra sudah dirintis era tahun 1970-an dalam bentuk buletin,” ujarnya Jumat (15/11/2024). Tahun terbit terakhirnya 2019 karena perubahan kebijakan dan pergantian kepala disdikpora.

Ditambah anggaran untuk pengentasan Covid-19, sehingga semua penerbitan dihentikan. Selain majalah Candra, ada tabloid Gembira untuk siswa SD, SMP, SLB dan tabloid Bias untuk siswa SMA/SMK sederajat yang semuanya diterbitkan Disdikpora DIY. Majalah Candra tidak terbit setiap hari seperti koran, namun periodik, setahun ada yang pernah tiga kali sampai sembilan kali. “Oplahnya mencapai enam ribu eksemplar setiap terbit,” sambungnya.

Praba mengatakan, karena majalah pelat merah atau dibiayai pemerintah, terbit kembali tergantung pengajuan ke DPRD DIY dari disdikpora. Sementara para penulis guru-guru sempat banyak yang bertanya kapan terbit lagi. Sebab karena tulisan opini dapat membentuk pengajuan angka kredit sertifikasi guru plus ajang literasi guru dan siswa.

"Kontennya mencakup tiga yakni fakta opini dan fiksi,” ungkapnya. Menurutnya, setiap pengisi tulisan selalu diawali dengan adanya pelatihan wawancara, menulis, dan memotret terlebih dahulu.

Selain itu, ada juga Yohanes Bambang (YB) Margantoro yang menjadi sosok terlibat dalam majalah Candra. Dia menceritakan, penerbitan media pendidikan Disdikpora DIY ada tiga, yakni majalah Candra, tabloid Gembira, dan tabloid Bias.

Candra dan Gembira semula menjadi satu produksi media yang terbit pertama 2 Mei 1970. Dalam perkembangannya, kemudian terbit secara terpisah. Sedangkan Bias terbit pertama pada 28 Oktober 1995 singkatan dari Bina Aktivitas Siswa.

Menurutnya, Candra untuk para guru SD, SMP dan SMA, sedangkan Gembira untuk siswa SD dan SMP. Khusus Bias untuk siswa SMP dan SMA. “Ketiga media itu berlegalitas STT dari Depen RI dan ISSN dari LIPI. Terbit berkala, pernah sepuluh kali dalam setahun, dan akhirnya hanya dua kali dalam setahun, sebelum berhenti terbit 2020,” tuturnya.

Tabloid Bias yang diawaki anak-anak SMA setelah mendapat bimbingan teknis jurnalistik darinya selaku narasumber. Termasuk kalangan guru-guru juga sebagai penulis atau kontributor Candra dan Gembira.

Dalam perjalanan, hanya dirinya yang aktif mengelola ketiga media itu sampai usia 50 tahun Candra dan Gembira pada 2020. Pada momentum setengah abad media itu, justru tidak terbit karena dananya dialokasikan untuk penanganan Covid 19. 

“Banyak guru dan siswa yang kerap menanyakan mengapa Candra, Gembira dan Bias tidak terbit lagi. Mereka butuh saluran karya tulis dan aneka isi lainnya,” bebernya.

Pria berusia 66 tahun itu mengaku sudah beberapa kali mengajukan saran ke Disdikpora DIY untuk dapat menerbitkan lagi tiga media pendidikan itu. Paling tidak versi online, namun belum ada tanggapan.

Menurutnya, dulu kehadirannya sebagai komitmen dan upaya Pemprov DIY melalui Disdikpora DIY, untuk pemberdayaan para pendidik dalam bidang kepenulisan ilmiah populer. Dia menilai, sudah semestinya Pemprov DIY berkomitmen terus menerbitkan media pendidikan seperti ketiganya. Alasannya, satu karena DIY menyandang sebagai kota pendidikan. (rul/laz)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#akrab #pembaca #Bina Aktivitas Siswa #Sebaran #covid -19 #literasi #generasi #SLB #Praba Pangripta #Majalah Candra #Guru #blantika #dprd diy #Yohanes Bambang Margantoro #LIPI #SMP #DIY #ISSN #eksemplar #Sekolah #Pemimpin Redaksi #menghiasi #APBD #terbit #sertifikasi #tinggal kenangan #International Standard of Serial Number #Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) #sd