RADAR JOGJA - Setiap bergantinya zaman, pasti diikuti perubahan-perubahan segala macam piranti, bahkan bentuk dan gaya permebelan. Seperti perabot rumah, khususnya bufet yang mengalami perubahan bentuk signifikan.
Bufet keluaran zaman dulu dengan bentuk yang khas memang saat ini sulit ditemukan. Namun keberadaan bufet itu di era sekarang malah menjadi nostalgia bagi anak cucuk atau sanak saudara saat kembali ke rumah.
Salah seorang saudara pemilik bufet jadul, Kusmiyati mengatakan, menurut sepengetahuannya bufet yang dimiliki orangtuanya dikenal sebagai bufet artdeco. Ia tidak tahu pasti kapan orangtuanya membeli buifet itu.
Ia mengingat sekitar tahun 1970an bufet itu sudah ada di rumahnya. "Kemungkinan harganya tidak sampai Rp 100 ribu. Saat ini sekitar Rp 6,5 juta. Kalau rupiah dulu paling sekitar Rp Rp 65 ribu," jawabnya menerka-nerka.
Ia mencoba mengingat saat orangtuanya masih hidup, bufet difungsikan untuk menaruh barang-barang rumah yang relatif kecil. Selain itu, juga untuk hiasan di sudut rumahnya. "Bagian atas untuk menaruh asesoris interior seperti piring hiasan, boneka dan pigura foto," tuturnya.
Bufet tersebut memang berbentuk unik. Terdapat tiga pintu dan satu bagian ruang kosong yang kecil tidak ada pintunya. Satu pintu disertai dengan kaca, sehingga bisa melihat apa yang disimpan di dalamnya.
"Bagian bawah, pintu kaca untuk menaruh beberapa koleksi buku, dan bagian pintu tertutup biasanya untuk menyimpan dokumen-dokumen penting seperti akta, Kartu Keluarga (KK) dan surat-surat lainnya," jelasnya.
Terkadang, bagian atas juga untuk menaruh radio atau barang kecil seperti kunci rumah agar mudah terlihat. Orangtuanya dulu sangat menyayangi bufet beserta barang di dalamnya. Ia rutin membersihkan dengan cara dilap dan terkadang juga diberi minyak agar lebih mengkilap.
"Tapi karena sekarang rumah juga tidak dihuni, bufet tersebut juga tidak terpakai dan berdebu," keluhnya.
Baginya dan saudaranya yang merantau di luar daerah, bufet menjadi kenangan tersendiri. Bentuk bufet yang khas dengan bahan kayu jati dulu menandakan bahwa pemilik merupakan golongan masyarakat menengah ke atas.
"Dulu tidak banyak yang punya itu. Biasanya kalau punya bufet gitu orang kaya dan rumahnya lebar," terangnya.
Menurutnya, benda antik selalu mengandung isyarat yang mampu memantik ingatan siapa pun pada kenangan akan suatu episode waktu yang pernah dilaluinya. Ingatan itu terbawa hingga melintasi zaman.
"Setiap zaman saya rasa memberikan khazanah permebelan yang khas. Bagi mereka yang ingin mengenangnya, memiliki mebel lawas itu menjadi semacam klangenan," bebernya. (tyo/oso/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita