RADAR JOGJA - Berdiri sejak 2009, Komunitas Kesini@n masih menunjukkan eksistensinya dalam dunia seni. Khususnya seni rupa. Menginjak usia 15 tahun, komunitas ini menjelma menjadi wadah bagi seniman, perupa, hingga pehobi seni rupa yang terus menerus berkembang. Kini anggotanya mencapai ratusan orang.
"Awal dulu hanya 14 orang, dan hanya saya saja yang punya background akademis seni rupa," ucap Inisiator Komunitas Kesini@n Teguh Paino saat ditemui Radar Jogja di kediamannya, Jumat (23/8).
Teguh menyampaikan, keberadaan komunitas ini berawal dari rasa jengah dengan komunitas sebelumnya yang tunduk pada aturan organisasi perangkat daerah (OPD) penyelenggara pameran seni.
OPD tak membebaskan seniman dalam mengekspresikan diri untuk membuat karya.
"Sebelumnya sudah banyak karya kami, tetapi sesudah mencentuskan kesinian (Kesini@n, Red), kami berpartisipasi dalam sebuah acara," ucapnya.
Gebrakan nyata baru bisa diberikan setahun setelah berdiri. Tepat pada 2010, komunitas ini ikut dalam acara bertaraf internasional bernama Biennale. Mereka mengikutkan hasil karya ke pameran, dan mendapatkan respons luar biasa dari masyarakat.
Setiap tahunnya, komunitas ini selalu mengadakan kegiatan yang memberikan gebrakan luar biasa. Pada 2015, komunitas ini kembali mengikuti kegiatan Biennale Jogja 13.
Mengangkat tema equator tanah, komunitas ini menggandeng Kalurahan Giripeni untuk merealisasikan karya seni. Mereka membuat konsep karya seni dengan tema "Lemahku Kekuatanku".
Bentuk karya seni diwujudkan dengan berbagai karya seni, seperti lukisan, instalasi seni, dan penciptaan tradisi kontemporer. "Saat itu menjadi viral, karena disoroti dunia dan diekspos ke media sosial," ucapnya.
Festival internasional itu cukup banyak mendompleng pamor komunitas ini. Lantaran, karya mereka cukup dikagumi serta bisa dinikmati masyarakat luas. Terutama pada instalasi seni yang ikonik, berupa gapura lumbung padi dan kinciran angin.
Hingga saat ini, masih terdapat bangunan ikonik yang dilihat langsung di sawah selatan Kalurahan Giripeni.
Tak hanya berkarya, komunitas ini juga berperan pada pergerakan sosial melalui berbagai karya. Di tahun 2017, mereka mengkritik wacana pembangunan Disneyland di Kulon Progo, sekaligus memberikan respons sosial pada rencana pembangunan YIA.
Melalui pameran karya seni instalasi di ruang publik, Komunitas Kesini@n membuat pameran Disinilain. Mengusung konsep kritik sosial terhadap perkembangan zaman, isu pembangunan dan pertambangan besi.
Mereka cukup keras menyuarakan kritik karya seni berbahan organik. Seperti bambu dan daun kelapa kering. "Instalasinya berbentuk tangan yang mencoba menjaga Kulon Progo yang divisualkan dengan Patung Nyi Ageng Serang," ujarnya.
Alumni FSR ISI 2001 ini menjelaskan, karya instalasi yang mereka buat merupakan bentuk perlawanan atas tindakan yang akan merampas Kulon Progo. Karya tersebut juga divisualisasikan denga kehadiran capung yang menyimbolkan keberadaan bandara yang akan segera dibangun.
Pameran ini juga menjadi sorotan banyak orang. Lantaran, hasil karya yang sarat dengan kritik. Bahkan pameran itu, dikunjungi GBPH Yudhaningrat dengan sambutan dukungan terhadap kritik sosial yang dilakukan para seniman. "Setiap tahunnya kami selalu mengadakan kegiatan akbar, seperti pameran dan terus dilakukan hingga saat ini," ucapnya.
Komunitas yang sudah mengakar di Kulon Progo ini, terus menunjukkan eksistensinya. Hingga saat ini telah menelurkan puluhan seniman muda baru yang membawa visi yang sama denga komunitas ini. (gas/eno)