RADAR JOGJA - Randu alas kerap kali dikeramatkan oleh masyarakat melalui sejumlah cerita mistis. Di balik kesan misteriusnya, ternyata tumbuhan tropis ini memiliki fungsi ekologis yang tinggi.
“Randu alas dari segi konservasi bagus untuk tata air, tanah, termasuk tempat tinggal bagi burung-burung,” ujar Pengendali Ekosistem Hutan, Balai Besar Pengujian Standar Instrumen Kehutanan (BBPSIK) Surip.
Ia menilai, fungsi ekologis ini sangat krusial karena randu alas bisa menyerap emisi karbon sehingga dapat mengurangi panas bumi saat ini. Terlebih ditunjang dengan ketahanan hidup pohon yang sangat tinggi. Umurnya bisa mencapai puluhan hingga ratusan tahun.
“Batangnya besar jadi potensi mati minimalis. Tajuknya luas jadi untuk fotosintesis sangat baik,” tambah Surip.
Menurutnya, randu alas belum tergolong tanaman langka. BBPSIK sendiri belum mulai membudidayaan tanaman ini. Tanaman langka khas Jogjakarta yang sudah dibudidayakan, antara lain, keben dan nagasari.
Meski begitu, jumlah randu alas memang sudah berkurang. Bibitnya mulai sulit didapatkan karena hutan sebagai tempat hidup alaminya sudah banyak hilang.
“Randu alas hidup di antara pohon-pohon. Meski tidak ekonomis, kalau satu blok dilakukan penebangan dia ikut kena tebang,” jelas Surip.
Randu alas memang tidak memiliki harga jual tinggi. Surip menjelaskan kayunya berkualitas standar, tidak terlalu awet, kekuatannya juga biasa. “Bisa dipakai sebagai papan bangunan untuk cor. Kualitasnya sekelas sengon,” tambahnya.
Nilai ekonomis tanaman ini sebenarnya dari kapuk yang dihasilkan. Namun saat ini lebih banyak orang memilih kasur atau bantal berbahan busa. “Pohon ini banyak di Kabupaten Pati,” jelas Surip.
Dia menjelaskan masyarakat atau pemerintah sangat bisa jika ingin membudidayakan randu alas. Sebab perlakuannya cukup mudah seperti tanaman pada umumnya. “Tidak perlu perlakuan khusus seperti Cendana yang sudah masuk jenis langka,” tutur Surip.
Walau demikian, ia menuturkan untuk memberikan ruang yang luas karena randu alas memiliki akar yang timbul dan berpotensi merusak bangunan di sekitarnya. Surip berpesan untuk melihat tanaman sesuai fungsinya masing-masing.
Randu alas sendiri lebih cocok untuk dibudidayakan dengan tujuan penghijauan. “Budi daya harus dilakukan agar tanaman tidak jadi langka,” pesannya. (cr1/laz)