RADAR JOGJA - Di antara ramainya deru kendaraan yang melintas di Jalan Laksda Adisucipto Jogja, menjulang tinggi sebuah pohon randu alas raksasa. Pohon bernama latin bombax ceiba itu berada tepat di depan sebuah museum milik maestro lukis Indonesia, Affandi.
Tidak ada yang tahu pasti kapan pohon randu alas itu mulai tumbuh. Usianya diperkirakan sudah mencapai ratusan tahun. Salah seorang pemandu di Museum Affandi, Dedi Sutama mengatakan, pohon itu sudah berukuran besar seperti saat ini sejak dirinya masih duduk di bangku sekolah dasar. Ia memperkirakan, pohon itu tumbuh secara liar.
Dedi menceritakan, pohon itu kini menjadi milik Museum Affandi setelah dibeli oleh mendiang sang pelukis pada era 1970-an. Affandi saat itu membeli pohon tersebut seharga Rp 75 ribu. Sebabnya, Affandi menyayangkan jika pohon raksasa itu harus ditebang.
“Dulu sempat mau ditebang karena banyak angin, takut kalau kenapa-kenapa. Akhirnya pohon-pohon besar pada ditebang agar tidak melebih tinggi tiang listrik,” jelas Dedi saat ditemui Radar Jogja, Jumat (26/7).
Saat itu Affandi merasa eman-eman jika pohon itu harus ditebang. Sebab pohon randu alas itu dinilai memberikan kesan estetika yang baik bagi museum. Bahkan pohon tersebut sempat menjadi inspirasi salah satu lukisan cucu Affandi, Didit Budi Karyawan. Lukisan bergambar pohon randu alas saat berbunga itu pun turut laku dibeli orang.
"Kadang seniman pas ada melukis bersama, dia cari inspirasi dari pohon itu. Seniman juga senang lihat itu, karena di lingkungan museum yang paling menonjol pohon randu alas itu,” jelas Dedi.
Tidak hanya para seniman saja yang kesengsem dengan keanggunan randu alas. Sejumlah tamu di museum pun pernah meminta bibit pohon randu alas. Museum Affandi memang memiliki bibit randu alas yang didapat dari pohon besar di depan museum.
"Bibitnya dari kapuk, nanti kapuknya pecah, kayak ada buntel gitu yang pecah kalau sudah tua. Terus yang kecil-kecil itu bibitnya, kena angin tersebar,” beber Dedi.
Dedi menyebut, adanya pohon randu alas raksasa di depan museum menambah ikon dari Museum Affandi. Dahulu suasana di museum cukup syahdu dan sejuk. Affandi kerap mengajak anak-anaknya saat terang bulan untuk tidur di luar kamar. Tepatnya di rumah panggung yang langsung menghadap ke arah pohon. “Kalau terang bulan tidur di depan kamar, di teritis. Pada gelar kasur tidur di situ, sejuk,” kata pria asal Jakarta ini.
Ia menjelaskan, pohon randu alas selalu mengalami masa gugur, berbunga, dan bersemi. Hal itu merupakan keniscayaan yang selalu terjadi rutin setiap tahun. pada bulan Juli ini, pohon randu alas di depan museum sedang berbunga. Bunganya berwarna kuning.
Setiap setahun sekali daunnya rontok. Kemudian dahan dan ranting kosong. Lalu mekarlah bunga. Bunga itu nanti menjadi kapuk yang bisa beterbangan tertiup angin. “Setelah kapuk rontok, nanti tumbuh daun lebat lagi. Ciri khasnya seperti itu. Tapi sekarang cuacanya sudah beda, sudah tidak bisa diprediksi, sudah lain,” ucap Dedi.
Konon pohon di depan museum ini menjadi satu-satunya pohon randu alas di Jogja yang berada di pinggir jalan raya. Sebelumnya sempat ada randu alas berbunga warna merah yang terletak di pinggir jalan di Kalasan. Namun sudah lama ditebang. (tyo/laz)