RADAR JOGJA - Komunitas Cine Club Kulon Progo berisikan anak muda yang tertarik pada industri perfilman. Siapa sangka, komunitas ini berhasil berkontribusi pada industri film nasional.
Salah satu founder WN Naufal mengungkapkan, Cine Club telah banyak ikut serta dalam produksi film nasional. Baik yang tayang di bioskop maupun platform lain. Seperti film Trinil, Doa Mengancam, dan beberapa film garapan milik Rapi Film. "Saya sempat bekerja dengan Mas Hanum Bramantyo, dan beberapa anggota lainnya," ucap WN Naufal, Jumat (2/8).
Penulis buku 100 Tahun Setelah Aku Mati ini menyampaikan, selain film bertaraf nasional, Cine Club seringkali bekerja sama untuk menggarap film lokal. Terakhir kali menggarap film untuk Dinas Pariwisata Kulon Progo. Komunitas ini juga rutin bekerja sama dengan beberapa mahasiswa untuk menggarap film sebagai tugas akhir studi.
Tak luput dari itu, komunitas ini juga berkecimpung dalam pembuatan video klip musik. Cine Club pernah bekerja sama dengan band Ndarboy Genk untuk pembuatan video klip lagu Anak Lanang, dan Janji Manis. Prestasi komunitas ini, juga telah diakui oleh beberapa institusi. Lantaran film garapannya masuk salah satu nominasi film di festival film bertaraf nasional.
Di balik segudang prestasinya, komunitas ini tumbuh secara bertahap. Dari awal tak memiliki film hingga kini memiliki puluhan film hasil garapannya. Pada awalnya komunitas ini terbentuk atas 3 orang founder, yang saat itu lulus dari program Sekolah Film yang dianeksasi oleh Dinas Kebudayaan Kulon Progo 2019.
Memiliki kesamaan pemikiran, ketiganya kemudian secara resmi membentuk komunitas pada 2020, bernama Cine Club. Komunitas dengan bentuk Paguyuban Cinematografi dan Film ini, mulai menjajaki karir di industri perfilman."Visi kami membentuk ekosistem film di Kulon Progo," ujarnya.
Selain kesamaan pemikiran, ketiganya beranggapan Bumi Binangun tak memiliki kemawahan sebanyak kabupaten/kota lainnya. Kemewahan dimaksudkan berupa fasilitas perfilman, ataupun sekolah film untuk menumbuhkan ekosistem industri. Sehingga, ketiganya memantapkan unruk membuat komunitas ini.
Pada awal pendirian komunitas ini, mereka bertiga mulai belajar mengenai dunia film lebih dalam dengan belajar autodidak. Kemudian mereka mulai merambah untuk menggarap film, dan mulai mengajak anggota baru. Hanya butuh waktu dua tahun, komunitas ini berkembang pesat, dan mulai dikenal karyanya.
"Sekarang sudah ada 40 anggota yang dulunya cuma 3," tuturnya.
Naufal menjelaskan, kegiatan rutin komunitas ini berupa produksi, screening, dan kajian film. Sama halnya dengan komunitas lain, setiap tahunnya Cine Club selalu memproduksi karya berupa film sebanyak 3-4 kali. Film tahun mereka biasanya ditayangkan ke masyarakat umum ataupun diikutkan dalam festival atau perlombaan.
Acara rutin lainnya, berupa Menoreh screening film. Kegiatan ini mengumpulkan anggota dan masyarakat umum untuk menonton film yang sebelumnya akan ditayangkan ke publik. Tujuannya untuk mengkoreksi film apabila terdapat kejanggalan. Selain itu, bagi masyarakat screening film juga merupakan hiburan. Lantaran sangat jarang ditemui pemutaran film secara gratis.
"Lebih banyak sukanya dibanding dukanya, mungkin karena faktor passion," ujarnya.
Komunitas yang telah bertahan selama tiga tahun ini tak lepas dari suka dan duka dalam menjalankan keorganisasian. Naufal menyebutkan, selama komunitas berjalan dirinya dapat mengenal sineas yang telah terkenal, menambah banyak kenalan, serta jejaring pada produksi film.
Di sisi lain, duka dalam komunitas ini seringkali menemukan hambatan saat menggelar produksi film. Lantaran, produksi film memerlukan uang tak sedikit, dan manajemen yang tepat. Terkadang mereka juga harus memforsir diri untuk produksi film. Namun hal itu tak menjadi halangan, justru menjadi tambahan semangat. (gas/eno)
Editor : Satria Pradika