RADAR JOGJA - Sanggul atau konde merupakan rambut palsu atau asli yang dibuat bundar atau oval dan ditempel pada sisi belakang atau kepala. Biasanya konde atau sanggul dipakai oleh para wanita saat di acara-acara resmi.
Pemerhati budaya asal Jogja, Wigung Wratsangka menjelaskan, banyak tulisan merujuk bahwa sejarah konde atau sanggul masuk akibat budaya dari Mesir. Karena di Indonesia minim akan pustaka.
Akan tetapi sesungguhnya yang memiliki sejarah lebih awal punya bentuk-bentuk sanggul dan konde adalah orang Nusantara. Karena mereka dari berabad-abad lalu sudah memiliki ragam konde.
"Fakta bahwa untuk orang Jawa atau masyarakat Nusantara itu rambutnya panjang. Jadi mereka sudah punya bentuk konde dari rambutnya sendiri. Sedangkan yang Mesir ada tradisi untuk mencukur gundul para wanita, tapi pada acara-acara tertentu ada tambahan rambut," ungkapnya kepada Radar Jogja, Jumat (19/7).
Wigung mengaku bukan tanpa alasan ia mengatakan orang Nusantara lebih awal memilih budaya bersanggul atau konde itu. Sebab seperti yang tertulis di prasasti Hindu seperti Kutai, Tarumanegara, Singasari sampai Majapahit, Sriwijaya, Demak, dan Mataram Islam, orang Nusantara sudah berambut panjang. Sehingga awalnya mungkin konde dan sanggul belum dikenal karena mereka masih menggunakan rambut asli yang digelung.
Menurut pengamatan Wigung, selain dari prasasti, ternyata sejarah konde atau sanggul juga ditemui dari sisi wayang yang sudah ada sejak zaman Hindu dan tertulis di Arjuna Wiwaha pada abad ke-12.
Di sana sudah ada berbagai macam bentuk konde atau hiasan kepala yang belum bisa diduga, apakah itu gaya dari rambut asli atau memang dibentuk secara khusus atau mengenakan konde. "Bentuk-bentuk konde itu sebenarnya sudah dikenal oleh manusia dari berabad-abad lampau sebelum Mesir melakukan ritual itu," ucapnya.
Pada zaman dulu konde biasanya digunakan oleh remaja atau gadis yang sudah menikah. Biasanya untuk remaja perhiasannya dengan logam, tidak boleh memakai bunga. Tapi kalau sudah menikah hiasan memakai bunga.
"Kalau di Jawa sampai saat ini pengantin putra masih dipasangi sanggul. Bentuknya kecil dan dipakai untuk ageman manten kanigaran. Tapi kalau manten paes ageng rambutnya dioren atau tidak diikat atau digelung," lontarnya.
Owner dari Pengantin Production Woww ini juga menyebut, konde selain untuk hiasan juga bisa menjadi daya tarik seseorang dan menandakan status sosial. Di mana secara global kalau rakyat biasa sanggulnya kecil, tapi bangsawan biasanya memakai sanggul yang besar dan mengenakan berbagai perhiasan mewah di kondenya.
Baca Juga: Salut! Ikut Rayakan Hari Jadi Kabupaten Sleman ke-108, Tukang Parkir Gunakan Pakaian Adat Jawa
Wigung mengungkapkan, sebenarnya semua daerah di Indonesia mempunyai bentuk konde atau sanggul sendiri-sendiri dan setiap bentuknya mempunyai filosofi.
"Konde atau sanggul juga bisa diartikan sebagai lambang kehormatan. Kita sendiri sudah punya prototipe di gelung yang kemudian berubah menjadi sanggul atau konde lalu dipercatik karena bahannya bisa ditambah sesuai selera," ujarnya. (ayu/laz)
Editor : Satria Pradika