RADAR JOGJA - Permainan tradisional dewasa ini semakin hilang dari lingkungan sosial, termasuk permainan gubuk-gubukan karena merebaknya game online. Padahal, main gubuk-gubukan mengajarkan kerja sama, solidaritas dan menghargai rasa kepemilikan untuk modal tumbuh kembang anak menuju dewasa.
Budayawan Jogjakarta Achmad Charris Zubair mengatakan, permainan gubuk-gubukan dan permainan tradisioanal secara umum banyak dilakukan anak-anak sebelum era informasi digital merebak. Namun setelah banyaknya game digital atau online menyebar, permainan tradisional itu mulai ditinggalkan.
"Masa lalu itu kan seluruh permainan selalu melibatkan teman yang lain untuk mengajarkan solidaritas," ujarnya kepada Radar Jogja, Jumat (12/7).
Seluruh permainan tradisional termasuk gubuk-gubukan bisa menguatkan pertemanan. Gubuk-gubukan mengajarkan kerja sama untuk memngumpulkan barang seperti daun dan ranting yang dibangun bersama hingga membentuk sebuah rumah kecil atau gubuk.
Dulu gubuk itu kemudian digunakan untuk makan bersama setelah mencari buah-buahan di sekitar lokasi.
"Sekarang ini anak justru malah nyaman ketika sendiri. Sadar atau tidak itu membentuk egosenstrisme maupun egoisme," tutur budayawan asal Kotagede ini.
Hal itu dipicu oleh banyaknya permainan yang melibatkan partner atau teman bermain secara virtual tanpa ada kontak fisik atau komunikasi intens. Ia menilai, anak-anak saat ini ketika bermain game online dan ada orang yang datang malah cenderung dianggap menganggu.
"Itu sesuatu yang secara kultural hilang, yakni tidak ada lagi permainan bersama dalam arti yang sebenarnya," jelasnya.
Untuk menuju kedewasaan, anak-anak perlu melalui proses bermain, khususnya permainan tradisional.
Hal itu karena dalam setiap permainan tradisional mendidik anak-anak untuk menghormati kepemilikan dan kerjasama yang solid.
"Dari aku kecil sudah ada (gubuk-gubukan), tapi memang permainan tradisional itu ungsum-ungsuman (mengikuti tren)," terangnya.
Kini permainan semacam gubuk-gubukan sudah mulai hilang. Hal itu diduga karena hadirnya era digital dan berkurangnya lahan lapang area bermain anak-anak. "Tanda pertama adalah hadirnya listrik, itu sudah mulai berkurang," ucapnya.
Ia menilai hilangnya permainan tradisional itu harus diganti pendidikan karakter dengan bentuk yang berbeda. Sebab kalau tidak, ke depan akan banyak orang yang lebih mementingkan hasil daripada proses. "Orang tidak lagi memikirkan aturan main dan sing penting menang. Banyak anak yang seperti itu," tandas Charris Zubair. (oso/laz)