RADAR JOGJA - Bagi generasi era 80-90-an, main gubuk-gubukan atau omah-omahan alias replika rumah, adalah hal biasa. Sepintas memang terkesan permainan sederhana, tapi bagi anak-anak kala itu punya nilai tersendiri. Mereka puas dan merasa terhibur dengan bermain gubuk-gubukan.
Seperti diungkapkan Aris Sucahyo, 39, warga Desa Muktisari, Kecamatan Kebumen. Dia masih ingat betul masa kecil dulu kerap membuat gubuk dari barang dan peralatan seadanya. Bersama teman sebayanya, Aris membuat gubuk dari potongan kayu sebagai kerangka. Adapun atap dibuat dengan memanfaatkan jerami.
Bagian dinding menggunakan kain jarik, sedangkan lantai pakai karung bekas atau kardus. Dia bercerita, proses pembuatan gubuk pun tak butuh waktu lama. Hanya butuh kerja sama antarteman agar seluruh bagian gubuk tertutup sempurna. "Dulu senang. Banyak teman ikut bantu. Kalau punya saya selesai, gantian buat punya teman," jelasnya (12/7).
Di tempat tinggalnya, membuat gubuk bisa dibilang menjadi tradisi setiap bulan Maulud tiba. Dulu tradisi ini disebut 'entak-entik'. Dia tak tahu pasti apa makna di balik penamaan tradisi itu. Pastinya, pembuatan gubuk dimaksud untuk menyambut bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Aris mengatakan, tradisi pembuatan gubuk bagi anak-anak kala itu selalu meriah. Apalagi ketika bertepatan pada malam peringatan kelahiran nabi. Masing-masing anak punya tanggungan membawa bingkisan berupa makanan ringan atau buah untuk kemudian saling bertukar dengan teman lain. "Pas malam salawatan di dalam gubuk, habis itu tukaran bingkisan. Saling sambang ke gubuk. Jadi seru banget," ungkapnya.
Hal senada diungkapkan Emi Purnamasari, 35, warga Desa Surotrunan, Kecamatan Alian, Kabumen. Ia cukup terkesan ketika menikmati malam di dalam gubuk. Terlebih saat cuaca malam mendukung. Hal yang menurutnya paling berkesan adalah ketika berada di dalam gubuk bertepatan malam bulan purnama.
"Kalau buat gubuk lihat tanggalan dulu. Sore pas mau bulan purnama, baru siap-siap semua. Malamnya itu bisa tidur di dalam gubuk," terangnya.
Namun kisah itu kini hanya tinggal cerita. Ia cukup bersyukur masa kecilnya dulu masih bisa merasakan nikmatnya bermain di dalam gubuk. Bagi Emi, banyak hal yang bisa dipetik dari proses pembuatan gubuk. Terutama penekanan pada nilai gotong-royong dan kebersamaan.
Pembuatan gubuk juga dapat mengasah kreativitas anak. "Sekarang sudah serba kecanduan HP. Anak sekarang tidak tahu asyiknya buat gubuk di pelataran rumah. Zaman sekarang sudah ada tenda anak. Serba praktis dan instan," tandasnya. (fid/laz)