Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sosialisasi KB lewat Patung Dua Jari

Anom Bagaskoro • Minggu, 30 Juni 2024 | 13:10 WIB
DUA ANAK CUKUP: Patung keluarga berencana (KB) di kawasan Pendowoharjo, Sewon, bantul, Sabtu (29/6).
DUA ANAK CUKUP: Patung keluarga berencana (KB) di kawasan Pendowoharjo, Sewon, bantul, Sabtu (29/6).

RADAR JOGJA – Kita pasti sering menjumpai di sudut-sudut kampung patung Keluarga Berencana (KB) berdiri kokoh. Patung berbentuk dua jari. Ada juga patung yang terdiri ayah, ibu, dan dua anak (laki-laki dan perempuan). Ini merupakan gambaran dari keluarga kecil salah satu praktik sosialisasi program Keluarga Berencana.

Kepala BKKBN Hasto Wardoyo saat dihubungi Radar Jogja menyebutkan, Tahun 1971 BKKBN memiliki pekerjaan rumah (PR) besar, yaitu mengubah mindset masyarakat. Mindset masyarakat saat itu berupa banyak anak banyak rezeki. Padahal, mindset tersebut berpotensi membuat overpopulasi. Jumlah manusia meningkat drastis, melebihi daya dukung lingkungannya.

Dampak over populasi, dinilai akan membebani negara. Lantaran, negara memerlukan anggaran besar dalam penyediaan fasilitas dan menjaga kestabilan kecukupan pangan. Sehingga populasi perlu dijaga kestabilannya. Saat itu program yang dicanangkan BKKBN berupa Keluarga Berencana (KB).

Demi menyebarluaskan program ini, BKKBN membangun beberapa tugu ataupun monumen KB. Perwujudan monumen ini dapat dilihat dan dipelajari hingga saat ini."Tidak ada makna khusus, karena fokus pada sosialisasi, sering disebut teknik marketing," ucapnya.

Mantan bupati Kulon Progo ini menjelaskan, sempat di kala itu, pembuatan patung KB dilombakan. Tujuannya agar masyarakat paham dengan program pemerintah, sekaligus menumbuhkan rasa memiliki atas program itu.

Menurutnya, belum ada riset perihal keefektifan sosialisasi melalui patung KB ini. Terlebih di era dulu, sosialisasi KB tak hanya melalui patung. BKKBN bahkan membuat lagu KB yang setiap paginya selalu diputar di radio-radio serta televisi. Sosialisasi melibatkan masif information system."Yang perlu dikaji bukan media seperti patung, justru simbol angka 2 perlu diperhatikan," tuturnya.

Alumnus UGM ini menjelaskan, simbol angka justru memiliki makna tersendiri, karena didasari kajian ilmiah. Angka 2 sebenarnya merupakan standar agar pertumbuhan penduduk seimbang. Didasari pada Total Fertility Rate (TFR) 2,1. Untuk memudahkan masyarakat Indonesia, keluarga berencana disimbolkan sebagai 2 anak dalam sekeluarga, bukan 2,1.


Kajian mengenai TFR 2,1 dapat disederhanakan, dalam sebuah keluarga idelanya memiliki 2 anak. Yang mana keluarga memiliki 1 anak perempuan, ataupun 1 perempuan melahirkan 1 anak perempuan. Tujuannya agar pertumbuhan penduduk seimbang, tidak zero growth maupun minus growth."Kondisi saat ini, nasional 2,18 sedangkan untuk DIJ 1,9 sehingga orientasi KB sekarang berubah," jelasnya.

Hasto menyampaikan, kondisi pertumbuhan penduduk saat ini cenderung normal. Sehingga KB tak lagi berorientasi pada kuantitas. Lantaran, apabila masih berorientasi pada kuantitas, akan menyebabkan minus growth. Berdampak pada kesedian SDM di Indonesia.

Saat ini BKKBN tengah mensosialisasikan program KB dengan orientasi berbeda. Kampung KB yang dahulu sebagai pusatnya keluarga berencana kini berubah menjadi keluarga berkualitas. Perubahan orientasi ini, diupayakan untuk meningkatkan kualitas penduduk, dari berbagai aspek. Salah satunya fokus dalam penurunan angka stunting.

Tak hanya itu, BKKBN juga berfokus pada fenomena sosial. Yang mana sering dijumpai pada geberasi sekarang yaitu lemahnya mental. Seringkali disebut sebgai sandwich generation kini menjadi fokus BKKBN, tentunya dengan tujuan peningkatan kualitas penduduk."Sudah harus move on, logo 2 anak pada patung sudah jadi masa lalu," tegasnya. (gas/din)

 

Dipasang karena Banyak Pasangan Subur

 Banyak patung KB yang tersebar di Kabupaten Sleman. Salah satunya adalah di Kelurahan Triharjo yang merupakan lokasi kampung KB.

Ketua Kampung KB Triharjo periode 2015-2016 Bagus menjelaskan, di kalurahan ini terdapat beberapa patung KB. “Patung sudah lama, sepertinya dibangun zaman Pak Harto,” ujarnya.

Salah satu anggota Forum Motivator KB pria di Kabupaten Sleman Zaeni menuturkan, Triharjo sendiri adalah salah satu wilayah dengan tingkat pasangan subur terbanyak. “Ini terkait kesejahteraan yang kurang juga,” kata Zaeni kala ditemui Jumat (28/6). 

Zaeni menuturkan di Kampung KB banyak hal yang diurusi. Di antaranya, kepemudaan, balita, kesehatan, hingga manula. Kini kampung KB tidak lagi di tingkat padukuhan. Tapi sudah diambil alih kelurahan.

Pria 49 tahun tersebut menjelaskan bahwa gerakan KB saat ini tidak lagi dengan pembuatan patung. Namun, lebih pada sosialisasi. “Kami dikasih ruang di televisi atau radio,” katanya.

Menurutnya, dulu gerakan KB begitu masif dengan adanya berbagai penghargaan, seperti KB Lestari. “Sekarang sosialiasi secara bergantian. Kadang ada kegiatan pemasangan dan pencopotan kontrasepsi,” jelasnya.

Dia menjelaskan, salah satu gerakan KB kini adalah prosedur memutus saluran sperma atau vasektomi. “Kalau perempuan KB, kecenderungannya gemuk, kadang sakit, keputihan,” tambahnya.

Zaeni menjelaskan, dirinya sendiri telah melakukan vasektomi sejak 2007. Menurutnya, tidak ada risiko berarti ketika laki-laki menjalani prosedur ini. “Sperma yang keluar mungkin lebih sedikit. Itu saja, engga perlu takut.” (cr1/pra)

Editor : Satria Pradika
#keluarga berencana #KB #BKKBN