Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

SMA 17 Yogyakarta, Pernah Berjaya dengan 45 Kelas, Kini Hanya Tersisa 12 Siswa

Fahmi Fahriza • Minggu, 9 Juni 2024 | 16:40 WIB

INI LHO: Kepala SMA 17 Yogyakarta saat menunjukkan bangunan SMA 17 Yogyakarta yang masih digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. 
INI LHO: Kepala SMA 17 Yogyakarta saat menunjukkan bangunan SMA 17 Yogyakarta yang masih digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. 

 

 

 

RADAR JOGJASMA 17 Yogyakarta kini mengalami masa sulit. Sebab sekolah ini harus bertahan dengan 12 siswa. Padahal pada medio 1980-an, SMA di kawasan Gowongan Lor Jetis ini pernah merasakan masa kejayaan. Siswa yang dimiliki mampu mengisi 45 kelas regular. 

 

Kepala SMA 17 Yogyakarta Bambang Eko Jati menyebut, jumlah siswa saat ini adalah gabungan dari kelas 10 dan 11. Masing-masing berjumlah lima dan tujuh siswa. Sedangkan kelas 12 yang baru saja lulus, hanya diisi tiga orang. 

INI LHO: Kepala SMA 17 Yogyakarta saat menunjukkan bangunan SMA 17 Yogyakarta yang masih digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. 
INI LHO: Kepala SMA 17 Yogyakarta saat menunjukkan bangunan SMA 17 Yogyakarta yang masih digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. 

Bambang menyampaikan, beberapa tahun belakangan kondisi sekolahnya kian berat. Mulai dari jumlah siswa yang secara tahunan terus berkurang, hingga persoalan bangunan yang hampir roboh. 

Kendati dihadapkan situasi yang berat, Bambang bersama guru lainnya berkomitmen untuk mempertahankan SMA 17. Terlebih Bambang yang sudah mengabdi di sekolah ini sejak 1989. "Lalu pada 2014 itu saya diangkat jadi kepala sekolah," ungkapnya Sabtu (8/6). 

 

Bahkan saat ini, Bambang harus kembali mengabdi hingga 2026. Padahal seharusnya dia sudah pensiun tahun ini. "Belum ada yang mengganti," lontarnya. 

 

Karena kondisi sekolah yang tidak lagi stabil, Bambang pun memperolehkan 12 guru lainnya untuk mengajar di sekolah lain. Namun hanya ada enam guru yang saat ini melakukan hal itu. 

"Guru itu memang pengabdian, tapi mereka berhak mendapat kesejahteraan, dan jujur saja berat kalau cuma mengandalkan di sini," bebernya. 

 

Bambang sendiri merasa, baginya mengajar di SMA 17 adalah pengabdian. Tak jarang dia mengeluarkan uang pribadinya untuk berbagai kegiatan sekolah. Langkah ini pun turut diikuti oleh guru lainnya. 

 

"Kami para guru di sini iuran pribadi kalau ada acara, misal seperti rapat atau ada kunjungan dari luar," paparnya. 

 

Saat disinggung soal iuran yang dibebankan bagi siswa, Bambang menyebut ada. Namun dia enggan merinci lebih spesifik biaya sekolah yang dibayarkan setiap anak didiknya. "Tapi tidak besar, dan kami juga bisa pahami kalau mereka tidak atau telat membayar," lontarnya. 

Menyongsong Tahun Ajaran 2024/2025 mendatang, Bambang tidak memiliki target spesifik soal jumlah siswa yang akan mendaftar. Dari pola tahunan yang ada, siswa SMA 17 adalah lulusan dari SMP 17. 

 

"SMA 17 ini seringnya menerima murid di tengah semester, pindahan dari sekolah lain itu salah satunya," ungkapnya. 

 

Dia berharap, pemerintah maupun dinas terkait bisa turut mengulurkan bantuan untuk sekolahnya. Beberapa hal yang kini menjadi concern Bambang adalah renovasi bangunan sekolah dan kesejahteraan para guru. "Hal yang selalu saya perjuangkan," tandasnya. (iza/eno)

Editor : Satria Pradika
#Yogyakarta #oldies #Siswa #DIY #SMA 17 I Jogja #Jogja