RADAR JOGJA - Seorang nenek yang akrab dipanggil Mbah Ar, 68, menceritakan pengalamannya disuntik vaksin cacar pada medio 1960-an awal. Katanya, cacar zaman dulu berbeda dengan sekarang. Cacar dilakukan dua kali, saat bayi dan kelas 2 SD. "Dulu disuntik Pak Mantri. Lokasi vaksinasinya di sekolahan. Masih SR dulu (Sekolah Ratjat, setingkat SD, Red).”
Vaksinasi yang diceritakan Mbak Ar ini terjadi medio tahun 1962-an. Waktu itu masih zaman pemerintahan Presiden Soekarno. Suntik vaksin cacar di sekolahan meninggalkan bekas di lengan sebelah kirinya. Dengan diameter sekitar satu setengah sentimeter. Itu terjadi karena jarum suntik pada masa itu berukuran lebih besar ketimbang jarum suntik sekarang.
Dia juga memetakan lokasi sekolahan lokasi vaksinasi cacarnya dulu. Berada di sebelah selatan Lapangan Denggung, Sleman. Menghadap timur. Lalu di belakang kelasnya terdapat jurang panjang yang di atasnya melintang rel kereta api. Kini jurang panjang itu bernama Jalan PJKA.
“Seusai suntik cacar, jajan. Dulu slondok masih seharga sekethip (mata uang Keraton Jogja yang nilainya di bawah satu gelo atau rupiah). Sanguku masih rong kethip. Slondok belum diplastik seperti sekarang. Masih diikat potongan bambu,” ungkapnya.
Sambil tersenyum nenek kelahiran September 1955 ini terus berusaha membuka lembaran ingatan saat masa kecilnya yang sudah berlalu, sekitar 60 tahun yang lalu. “Dulu sekolah juga masih pakai sabak (alat tulis semacam papan tulis kecil sebelum ada buku). Belum semua pakai sepatu,” kenangnya.
Nenek dari dua cucu ini bernama lengkap Maryam. Kini tinggal di Keparakan Lor, Mergangsan, Jogja. Saat masih kecil, hidup bersama orangtuanya dan tercatat sebagai warga Dusun Beran Kidul, Tridadi, Sleman. Lahir pada September 1955, kini menikmati masa senjanya dengan momong cucu.
Lanjut kenangannya, suntik vaksin cacar untuk bayi dilakukan di rumah Pak Dukuh. "Saya masih ingat, dulu ibu-ibu tetangga berduyun-duyun ke rumah Pak Dukuh. Antre suntik cacar untuk bayinya. Di sana ada Pak Mantri. Dia kepanjangantangan dari pemerintah untuk urusan kesehatan. Dulu belum banyak dokter, puskesmas, rumah sakit seperti sekarang. Jadi yang nyuntik ya Pak Mantri itu” katanya.
Menurut Mbah Ar, suntik vaksin bayi jauh lebih seram. Selain jarum suntiknya lebih besar, cara memasukkan vaksinnya berbeda. Jarum suntik yang berukuran lebih besar itu dipanaskan terlebih dahulu. Kemudian disuntik dan digoreskan ke lengan. Sehingga meninggalkan bekas luka yang nampak jelas. Sebesar usapan ibu jari. Jumlahnya dua, di lengan kanan dan kiri. Jadi total ada tiga bekas cacar di lengan Mbah Ar. (hep/laz)