Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sekarang Cari Lodhong, Harus Rajin ke Klithikan atau Toko Barang Bekas

Agung Dwi Prakoso • Minggu, 7 April 2024 | 13:05 WIB
LAWASAN: Lodhong beling di Kedai Boga Sampir yang digunakan untuk display makanan dengan konsep desain lawasan.Agung Dwi Prakoso/Radar Jogja
LAWASAN: Lodhong beling di Kedai Boga Sampir yang digunakan untuk display makanan dengan konsep desain lawasan.Agung Dwi Prakoso/Radar Jogja

 

RADAR JOGJA - Lodhong beling atau toples jadul wadah makanan yang terbuat dari kaca dengan bentuk unik, di era saat ini sudah jarang ditemukan. Salah seorang pemilik kedai Boga Sampir dengan konsep lawasan menyampaikan sulitnya mencari barang itu. Lodhong hanya bisa didapatkan di toko-toko antik atau toko barang bekas.


"Saya punya delapan lodhong dengan bentuk yang beda-beda. Ada yang bagus dan biasa kualitasnya, karena barang lawas agak sulit," ujar pemilik kedai Boga Sampir, Martinus kepada Radar Jogja, Jumat (5/4).


Dulu ia mendapatkan lodhong itu dengan usaha yang cukup memakan waktu relatif lama. Hal itu lantaran toples tersebut sudah tidak diperjualbelikan di toko-toko perkakas dapur pada umumnya.


"Saya dulu carinya di Pasar Klitikan Kuncen, Pasar Gancahan Godean, Pasar Prambanan dan kebanyakan barangnya bekas semua," tuturnya.
Harga yang ia dapatkan juga bervarisi. Hal itu lantaran barangnya yang langka dan harga tergantung dari penjual atau pemiliknya.


"Harganya bejo-bejan, tergantung yang menjual. Ada yang satu toples Rp 30 ribu, ada yang Rp 60 ribu. Kalau ketemunya penjual ya di atas Rp 60 ribu," jelasnya.


Ia menyarankan apabila mencari toples itu bisa dilakukan di desa-desa atau wilayah yang masih banyak rumah joglo atau limasan. Karena kebanyakan orang yang memiliki barang itu memang kolektor barang antik atau peninggalan dari simbahnya.


"Kebanyakan Gunungkidul dan agak kampung. Kebanyakan orang sekrang punya karena tinggalan dari mbahe atau orang tuanya," ujarnya.


Ia mengatakan alasan dirinya menggunakan toples di warungya karena sesuai konsep desain kedainya. Selain itu, barang-barang antik selalu punya nilai filosofis, terlebih dari kenangan-kenanganya.


"Kalau cari zaman sekarang mulai sulit. Kalau di tempat saya, itu buat wadah emping, kacang dan lain-lain. Kalau di Jogja sulit, tapi kalau di Solo di Pasar Triwindu itu kemungkinan ada, karena itu pasar klithikan besar di sana," ungkapnya. (oso/laz)

Editor : Satria Pradika
#oldies #Gunungkidul #Lodhong #barang bekas