RADAR JOGJA - Distribusi kebudayaan Islam yang masuk ke Indonesia berpengaruh pada corak dan kain sajadah. Tak terkecuali sajadah jadul dengan corak Masjidil Haram dan Masjid Raya Hagia Sophia. Meski bangunan sejarah tersebut berasal dari Turki, namun sajadah pertama kali masuk ke Indonesia melalui jalur Persia. "Makanya sajadah zaman dulu coraknya gambar masjid dengan kain licin," ungkap Pengkaji Sejarah Muhammadiyah Mu'arif kemarin (30/3).
Selain Persia, lanjutnya, Tiongkok, Madagaskan, dan Gujarat turut mempengaruhi penyebaran Islam di Indonesia. Hal ini pun turut mempengaruhi budaya yang ada. "(Berupa, Red) hasil karya termasuk bikin sulaman, karpet, modifikasi peci, hingga motif sajadah," rincinya.
Dia pun merunut awal mula adanya sajadah. Dimulai dari zaman nabi yang menggunakan pelepah kurma yang dianyam untuk mendukung kenyamanan beribadah di tengah gurun pasir. "Sajadah dibentangkan ke bumi untuk menghindari suhu panas gurun pasir," kata Mu'arif.
Tidak hanya digunakan untuk kepentingan salat, sajadah juga bisa dijadikan sebagai alas tempat tidur. "Karena kulit tidak kuat menahan panas dari tanah, pasir dan bebatuan di Makkah," beber pria yang tengah menempuh program doktoral di UIN Sunan Kalijaga ini.
Terlebih, dalam hadis nabi memang ada banyak perintah untuk menjaga batas tempat salat. Tujuannya agar orang tidak mudah lalu-lalang di depan orang salat. "Hukumnya tidak boleh itu, dilarang," ucapnya.
Istilah sajadah sendiri, pertama kali muncul dari muslim Mesir. Lalu datang berbagai komunitas muslim seperti Dinasti Umayyah dan Abbasiyah. "Dinasti-dinasti inilah yang sangat kuat pengaruhnya di kalangan umat Islam, dan tumbuh peralatan industri serta mesin penyulaman," jelasnya.
Kondisi itu menjadi pusat komunitas bisnis besar. Hingga akhirnya muncl produk sajadah dari Persia sampai ke Indonesia berjalan seiring dengan distribusi kebudayaan Islam. (gun/enoo)
Editor : Sevtia Eka Novarita