RADAR JOGJA - Berjalan kaki ketika pagi hari di bulan Ramadan menjadi rutinitas yang tidak bisa dipisahkan masyarakat DIY. Biasanya seusai salat Subuh di masjid, dilanjut jalan kaki ramai-ramai. Dari sekadar santai maupun olahraga.
Praktisi kesehatan dari Universitas Islam Indonesia (UII) dr Ana Fauziyati M.Sc, Sp.PD mengatakan, jalan pagi subuh merupakan kegiatan yang baik untuk dilaksanakan. Namun yang perlu diperhatikan adalah durasinya tidak perlu terlalu lama. Demikian pula jaraknya tidak perlu terlalu jauh.
Jalan kaki subuh bermanfaat sebagai pilihan untuk berolahraga ketika dalam keadaan berpuasa. Apalagi dilakukannya pada pagi hari ketika udaranya masih sejuk.
Kondisi itu, membuat orang yang jalan kaki mendapatkan udara bersih dan kaya oksigen. "Bisa untuk relaksasi juga serta melancarkan aliran darah," katanya kepada Radar Jogja, Jumat (22/3).
Warga yang melakukan jalan kaki subuh tentunya mengharapkan tetap bugar namun juga tidak kehilangan banyak cairan, agar tetap nyaman berpuasa. Ana membeberkan, jalan kaki subuh yang baik dilakukan selama sekitar 15 menit.
Menurutnya, alternatif lainnya untuk berolahraga ketika puasa adalah menjelang berbuka puasa atau di malam hari seusai salat tarawih. Namun memang semuanya dikembalikan ke setiap individunya, menyesuaikan dengan kondisi dan kekuatan tubuh masing-asing. "Biasanya orang nyaman jalan-jalan pagi sehabis salat subuh," ucapnya.
Menurutnya, paling ideal seusai makan sahur dan salat subuh tidak tidur. Walaupun memang disadarinya itu sangat berat bagi sebagian orang yang malamnya tarawih, tadarus, dan menyiapkan sahur. Dia memberi opsi dengan tidur siang sejenak bisa dilakukan agar tetap kuat beribadah puasa.
Ana mengingatkan, untuk yang menderita penyakit seperti diabetes melitus, gagal jantung dan ginjal, perlu berhati-hati olahraga jalan kaki subuhnya.
Penderita penyakit itu tidak perlu olahraga terlalu berat. Menurutnya, pasien diabetes melitus dengan glukosa darah yang belum terkontrol tidak disarankan olahraga yang berat.
Misalnya kadar glukosa darah masih lebih dari 250 mg/dl, tidak disarankan berolahraga berat. Itu karena dikhawatirkan bisa menimbulkan komplikasi seperti ketoasidosis.
Sedangkan olahraga sebelum berbuka puasa pada pasien diabetes melitus berpotensi menimbulkan hipoglikemi. Kondisi itu bisa membuat penderitanya tampak lemas dan dapat pingsan.
Oleh karena itu, dosen di UII itu menambahkan, perlu dilakukan penyesuaian dosis dan cara pemberian obat anti diabetes pada penderitanya yang berpuasa.
"Tetapi pasien juga bisa mengukur sendiri bila mampu dan kuat. Jalan kaki 15 menit insya Allah masih aman," tuturnya.
Menurutnya, kriteria intensitasnya sebaiknya tidak melebihi 80 persen denyut jantung maksimal. Dia membeberkan, denyut jantung maksimal bisa diukur dengan cara 220 dikurangi umurnya. Misalnya umur 50 tahun, maka denyut jantung maksimal 170. Bila maksimal intensitas 80 persen berarti 136 x/menit.
Namun disadarinya tidak semua orang memeriksa nadinya saat berolahraga. Denyut jantung bisa diukur dengan mudah menggunakan smartwatch dan bisa diukur sendiri secara manual.
Meski begitu, Ana mengungkapkan, masih ada ukuran subjektifnya yang bisa diketahui penderita diabetes. Indikasinya tidak perlu jalan sampai mengakibatkan napas terengah-engah. "Jalan kaki cukup santai saja, khususnya untuk para pasien itu," ungkapnya.
Sementar itu, jalan kaki subuh sangat bermanfaat bagi penderita asma. Menurutnya, bisa untuk melatih pasien asma agar tidak mudah kambuh atau desensitisasi. Selain itu, jalan kaki subuh dapat melatih otot dan tulang agar tidak mudah terjadi pengeroposan tulang atau osteoporosis. (rul/laz)