Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Nostalgia Jalan-Jalan Subuh, Sambil Bawa Oncor, Asyiknya Bertemu Rombongan Lain

Adib Lazwar Irkhami • Minggu, 24 Maret 2024 | 15:00 WIB
SAIFUL HADI.DOK PRIBADI 
SAIFUL HADI.DOK PRIBADI 

 

RADAR JOGJA - Jalan jalan subuh (JJS) saat bulan Ramadhan sudah menjadi tradisi turun temurun sejak zaman dulu. Seiring berjalannya waktu, tradisi itu mengalami banyak perubahan dan perkembangan.


Tokoh masyarakat Bambanglipuro, Bantul, Saiful Hadi mengatakan, sejak dulu sampai sekarang JJS masih terus ada di wilayahnya. Kegiatan itu biasanya dilakukan oleh anak-anak seusai menunaikan ibadah saolat subuh di masjid.


Dia mengungkapkan, dalam JJS biasanya juga hanya mengambil rute yang tidak terlalu jauh. Misal hanya berkeliling kampung atau berjalan santai di sekitaran wilayah masjid saja.


Meskipun hanya sekadar berjalan kaki seusai beribadah, Saiful menilai ada sebuah keasyikan tersendiri dalam kegiatan JJS. Yakni ketika ada momen silaturahmi atau guyub rukun antarmasyarakat ketika rombongan JJS dari kampung atau masjid lain bertemu.


"Yang jelas keasyikannya itu tiap antarkampung atau saat di tengah mbulak pasti ketemu dengan rombongan lain. Dan itu hanya di bulan Ramadan” ujar Saiful kepada Radar Jogja, Jumat (22/3).


Lebih lanjut dikatakan, seiring berkembangnya zaman tradisi JJS juga banyak mengalami perubahan. Saiful mengungkap, dulu kegiatan JJS sangat kental dengan nuansa tradisional, karena harus membawa alat penerangan berupa oncor. Berbeda dengan kini yang bisa membawa telepon genggam sebagai penghanti senter.


Dia melanjutkan, kalau dibandingkan dengan zaman sekarang, JJS dulu juga terasa lebih meriah. Lantaran ketika ikut dalam kegiatan itu sebagian besar anak laki-laki dalam rombongan dipastikan membawa petasan atau kembang api. Sehingga menambah keceriaan pada tiap rute jalan-jalan.


Di samping itu, menurut Saiful, kegiatan JJS juga memiliki banyak manfaat. Selain menambah keceriaan bagi anak-anak, kegiatan berjalan kaki mengitari kampung saat pagi hari juga merupakan olahraga bagi orang-orang dewasa.


"Dalam JJS lima sampai 10 persen rombongan itu pasti ada orang dewasa dan itu sekalian olahraga. Kalau anak-anak ya mungkin hanya menganggap seneng-seneng saja,” tandas Saiful. (inu/laz)

Editor : Satria Pradika
#oldies #Bantul #ramadhan #oncor