Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Komunitas Quadcopter, Investasikan Uang dalam Hobi

Anom Bagaskoro • Minggu, 10 Maret 2024 | 15:05 WIB

BERAGAM: Komunitas Quadcopter Kulon Progo sedang memperlihatkan drone yang sering mereka terbangkan. Harga setiap drone FPS ini mencapai ratusan juta rupiah.
BERAGAM: Komunitas Quadcopter Kulon Progo sedang memperlihatkan drone yang sering mereka terbangkan. Harga setiap drone FPS ini mencapai ratusan juta rupiah.
 

RADAR JOGJA - Sebagian orang menganggap hobi adalah segalanya. Bahkan rela merogoh kocek dalam-dalam agar mampu memenuhi keinginanya. Seperti yang dilakukan oleh anggota Komunitas Quadcopter Kulon Progo, yang menginvestasikan uang dalam hobinya.

"Komunitas kami berdiri sejak Juni 2023, dan sekarang sudah beranggotakan 11 orang," ucap Riyadi anggota komunitas saat ditemui Radar Jogja Jumat (8/3).

Riyadi menjelaskan, awalnya dia hanya sering menerbangkan drone di sekitar Lapangan Cubung, Lendah. Dari situ bermunculan beberapa orang yang memiliki hobi sama. Semenjak itu, mereka sering berkumpul dan berdiskusi terkait drone. "Waktu itu kegiatannya hanya menerbangkan, diskusi, dan merakit drone," ucap Riyadi.

Komunitas ini menampung para penerbang drone manual atau sering juga disebut drone racing (FPS). Berbeda jenis dengan drone yang beredar di pasaran. Drone ini membutuhkan usaha keras, baik dalam cara menerbangkan ataupun merakitnya.

"Komunitas ini memang berisi pengguna drone manual, bukan drone aerial, dan itu merupakan ciri khas komunitas kami," ucap Riyadi.

Menurut Riyadi, pengoperasian drone manual lebih rumit dibanding dengan drone aerial. Drone aerial ketika berada dalam posisi terbang tetap akan melayang walaupun tanpa dikontrol. Hal ini berbeda dengan drone manual yang perlu kontrol penuh. Kendati memerlukan kontrol penuh, drone manual atau FPS lebih cepat bergerak. Sehingga dapat memperoleh gambar yang mampu mengikuti gerakan objek yang cepat.

Riyadi menjelaskan, ketika seseorang ingin masuk kedalam komunitas, perlu memantapkan diri. Hal ini, diperlukan karena resiko rusaknya drone FPS lebih tinggi dibanding drone lain. Kerusakan sering terjadi akibat jatuh selama proses terbang.

Menurut Riyadi, sudah beberapa kali orang datang berkunjung untuk mendaftar sebagai anggota komunitas. Namun, banyak juga yang mundur akibat mendengar risiko yang didapat apabila drone jatuh saat pengoperasian. Riyadi menganggap hal itu wajar karena drone FPS bukanlah barang murah. Sehingga apabila jatuh drone akan mengalami kerusakan dan biaya perbaikannya sangatlah mahal.

Rata-rata harga drone FPS lebih mahal dibanding drone aerial. Drone FPS yang lengkap membutuhkan budget Rp 100 juta. Sedangkan drone aerial cukup dengan Rp 30 juta. Harga ini dipengaruhi dengan motor, rangka drone, serta sistem operasi yang digunakan.

Oleh sebab itu, Riyadi membenarkan bahwa hobi komunitas ini sangat mahal. Namun di sisi lain, hobi komunitas ini terbilang menghasilkan. Sebab komunitas ini biasa diminta untuk mengabadikan acara yang perlu menjangkau area luas. “Terakhir komunitas ini diperbantukan untuk merekam konser di Stadion Cangkring," ucap Riyadi.

Selain konser ataupun acara formal, Quadcopter juga sering dipanggil untuk merekam acara pernikahan. Dalam sekali terbang, komunitas ini pun mampu meraup jutaan rupiah. (cr7/eno)

 

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Komunitas Quadcopter Kulon Progo #drone manual