Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kiper Legendaris PSIM Jogja Oni Kurniawan Kenang Sepak Bola Plastik, Bangga Bisa Ikut Turnamen, Bagus untuk Bentuk Mental

Adib Lazwar Irkhami • Minggu, 18 Februari 2024 | 15:00 WIB
Oni Kurniawan Kiper Legendaris PSIM Jogja.Rizky Wahyu/Radar Jogja
Oni Kurniawan Kiper Legendaris PSIM Jogja.Rizky Wahyu/Radar Jogja

RADAR JOGJA - Permainan sepak bola plastik kini sudah jarang ditemui, terutama di daerah perkotaan. Padahal dulu begitu populer. Tidak saja untuk anak-anak, tapi juga di kalangan dewasa. Bahkan sering ada lomba atau turnamen dengan menggunakan bola plastik.


Mantan pemain sepak bola plastik Oni Kurniawan menyebut, ajang kejuaraan sepak bola plastik zaman dulu adalah suatu pendidikan mental bagi para pemain. Sebab, selain masih menggunakan perlengkapan seadanya, pada kompetisi itu juga memiliki banyak penonton.


"Dulu yang ikut bukan klub sekolah sepak bola (SSB). Jadi klub-klub antarkampung atau tarkam. Suporternya ya dari kampung-kampung itu. Suporter biasanya datang rombongan pakai mobil-mobil pikap gitu. Banyak sekali, jadi seru banget," ujarnya saat ditemui Radar Jogja, Jumat (16/2).


Oni menceritakan waktu masih kecil ia sering ikut kompetisi sepak bola plastik. Dan menurutnya, dulu yang sering mengadakan turnamen itu Pura Pakualaman yang diselenggarakan di Lapangan Sewandanan Pakualaman. Kejuaraannya pakai nama PA (Paku Alam) Cup. 


Selain PA Cup, pada zaman dahulu kompetisi sepak bola plastik juga diadakan oleh tiap kampung di DIJ yang memiliki lapangan sepak bola. Dan biasanya kompetisi itu diikuti oleh klub-klub kampung se-DIJ. "Kompetisi itu biasanya campuran diikuti se-DIJ. Para pemainnya juga bon-bonan," ucap mantan penjaga gawang PSIM Jogja itu.
Menurut Oni, dulu SSB di Jogja masih kurang, hanya ada dua. Jarang ada kejuaraan di usia anak-anak. Maka anak-anak seusianya dulu ikutnya turnamen sepak bola plastik itu.


Permainan sepak bola plastik sangat sederhana. Karena gawangnya hanya memakai bambu tradisional dan garis lapangannya dengan gamping saja. Namun seorang wasit, kompetisi itu selalu menggunakan wasit resmi.
"Para pemainnya dulu pada tidak pakai sepatu, nyeker semua. Cuma pakai deker engkel kaus kaki potongan. Jan tradisional banget," ungkap sambil tertawa.


Walaupun sangat tradisional, pria 42 tahun ini mengungkapkan kompetisi sepak bola plastik zaman dulu pasti seru di setiap tahunnya. Sebab, di setiap tahun dulu pasti ada kompetisi itu. Sampai-sampai di ajang kompetsisi sepak bola plastik ada hal-hal mistis juga.


Ia menyebut sebelum bermain, para pemain disuruh minum air putih yang diputar ke semua pemain dan disuruh menghabiskan. Dan juga kalau saat mau bertanding juga ada larangan untuk tidak melewati arah tertentu, misal lewat di sebelah timur atau kandang lawannya. 


Oni sendiri mengikuti kompetisi sepak bola plastik sejak ia duduk di bangku kelas tiga SD sampai menginjak kelas satu SMP. Dan katanya dulu para pemain-pemain profesional lokal PSIM Jogja pasti ikut kompetisi ini juga.


Sistem pemilihan pemain di ajang kompetisi sepak bola pasti dulu berdasarkan tahun kelahiran. Atau kalau tidak sistemnya dengan pengukuran tinggi badan. 


"Kebetulan kan di keluarga saya itu keluarga bola semua. Aslinya sama bapak tidak boleh ikut, tapi namanya anak ya kan dulu saya ngeyel. Yang namanya orang tua pasti khawatir kalau ada tawuran dan berkelahi saat turnamen. Karena kompetisi itu sangat berpotensi rusuh," jelas Oni.


Kompetisi sepak bola plastik ini hilang sampai saat terbentuknya ada SSB untuk wadah anak-anak bermain sepak bola. Jadi kompetisi sepak bola plastik hilang dengan sendirinya. Sebab dengan adanya SSB itu turnamen-turnamen jadi tertata. Dan memiliki tingkat keamana yang terjamin.  "Tapi tetap seru kompitisi bola plastik. Karena itu pembentukan mental," tuturnya.


Oni mengaku masih sering kangen dengan kompetisi itu. Bahkan sampai sekarang ia kadang menginggatnya. Karena baginya, kompetisi itu mengingatkan dengan masa kecilnya dulu. 


Hal yang paling berkesan dialami Oni di kompetisi sepak bola plastik adalah pasti pinginnya menang terus. Karena kalau menang dapat uang jajan.


"Dulu waktu saya kecil didikannya keras, karena sudah tarkaman. Sekarang anak-anak sudah enak karena ada SSB. Namun di tarkam bola plastik itu senang. Selain dapat uang jajan, kalau menang juga dapat nasi bungkus. Istilahnya zaman dulu kalau mau beli benang layangan, gampang," ungkapnya. (ayu/laz)

Editor : Satria Pradika
#oldies #Sepak bola plastik #Oni Kurniawan #PSIM Jogja