RADAR JOGJA - Murid Azwar AN dan junior angkatan pertama di Teater Alam, Meritz Hindra menyebut Azwar AN adalah sosok yang sangat keras dan disiplin ketika berproses di dunia teater. Namun dalam kehidupan sehari-hari, almarhum lebih sering dianggap sebagai seorang sahabat oleh anggota Teater Alam.
"Secara pribadi Bang Azwar adalah orang yang familiar dan suka bercanda dalam kehidupan sehari-hari. Tapi kalau sudah latihan, galaknya setengah mati. Itu pas latihan saja. Di luar latihan, ya seperti teman. Kami mendapat banyak ilmu dari Bang Azwar. Karena kami dari awal tidak tahu sampai akhirnya menjadi tahu teater ya karena Bang Azwar," ujarnya saat ditemui Radar Jogja di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Jumat (2/2).
Bagi anggota Teater Alam, Azwar AN dianggap sebagai sosok seorang guru, teman, sahabat, bahkan kakak. Karena dulu mereka sering bertemu setiap hari ke sanggar. "Karena setelah selesai pementasan istrirahat satu minggu, kembali lagi ke latihan dasar. Jadi kami memang memberdayakan diri kami sampai ujung jempol kaki sampai ujung rambut untuk siap bermain dalam naskah yang baru terus," katanya
Menurut Meritz, Azwar adalah seorang pelopor dan pendiri Teater Alam. Alamrhum mendirikan Teataer Alam setelah keluar dari Bengkel Teater pada 1971 akhir. Lalu pada 4 Januari 1972, Azwar AN mendirikan Teater Alam itu.
"Tahun 1972 Bang Azwar woro-woro mau bikin grup teater. Lalu saya dengan beberapa teman dari Asdrafi masuk anggota dan menjadi angkatan pertama di Teater Alam," ucap Meritz.
Baginya, Azwar adalah sosok yang sangat keras dalam berkesenian dan dalam kehidupan. Keras maksudnya mendidik murid-muridnya sangat disiplin. Terus memberi pelajaran dengan metode-metode yang dilatihkan. Dan dia lebih suka disebut sebagai penggerak teater.
Azwar juga dikenal punya ide-ide dalam dunia teater. Seperti Arisan Teater di Jogja dari 1974 sampai awal 1980. "Anggota Teater Alam menyebut Bang Azwar ini sosok serius serta bangkotan. Istilahnya pathak warak di bidang teater," ungkapnya.
Meritz mengungkapkan Azwar dalam dunia teater selain menjadi ketua dan pelopor Teater Alam, juga fokus di bidang keaktoran dan penyutradaraan. Ketikan melatih dan menyutradarai para pemain, Azwar dikenal sangat galak dan disiplin.
Menurut Meritz, Azwar ketika menyutradarai suatu pementasan punya banyak ide dan gagasan dalam memecah suatu adegan. Jadi membuat adegan, kerangka adengan, lalu ada ide-ide yang agak nakal dan unik. Azwar sangat menguasai teknik penyutradaraan.
Sementara ketika menjadi seorang pemain di atas pangung, Azwar juga sangat jago bermain peran. Cuma kadang dia tidak hafal dialog dalam naskah. Akan tetapi kelemahan dalam menghafal naskah itu menjadi sebuah pemakluman para anggota Teater Alam. Karena dulu ia ketua grup dan yang mencari sponsor. Makanya kadang-kadang hafalannya kalau pas main di pangung sering lupa.
"Karena teman-teman yang lain sudah terbiasa dengan hafalan Azwar AN itu, maka anggota yang lain mencoba mengingatkan saja. Di situ mereka melakukan improvisasi dalam sebuah permainan drama. Pokoknya beliau hangabehi di Teater Alam," ungkapnya.
Diakui orangnya galak dan disiplin sekali. Galak dalam hal latihan. Di luar latihan guyon seperti teman biasa. "Jadi betapa pentingnya disiplin pribadi, baru disiplin kelompok. Karena grup teater itu komunitas yang sangat kooperatif, gotong royong, dan kerja kolektif," jelas Meritz.
Ia mengungkapkan periode kepemimpinan Azwar di Teater Alam dari pertama berdiri sampai akhir hayatnya. Karena menurutnya, teater itu sudah masuk ke darahnya. Teater sudah menjadi pilihan hidupnya sampai dia meninggal.
Bahkan keluarganya tidak ada masalah dengan pilihan hidupnya itu. Seperti putra-putranya, sangat mendukung ketika Azwar AN berkecimpung di Teater Alam. Sampai-sampai istrinya kadang ikut bermain drama di atas pangung dengan anggota Teater Alam.
Meritz mengaku banyak kenangan dengan sosok Azwar AN hingga tidak bisa ia lupakan hingga kini. Misalnya ketika latihan teater kalau salah teman-teman pemain disuruh mengulanggi sampai 10 kali. Lalu kalau ada yang terlambat datang, dihukum lari-lari. Namun setelah selesai latihan, mereka tetap guyon.
Meritz mengaku saat ditinggal oleh Azwar AN, ia dan teman-temannya dari Teater Alam sangat merasa kehilangan. Karena mereka sudah berteater sejak awal tahun 1960-an. "Jadi sudah hampir 50 tahun lebih Bang Azwar sebagai seorang pemain, sutradara, bahkan pemimpin teater," katanya.
Namun, Meritz mengatakan Teater Alam setelah ditinggal oleh Azwar AN tetap berjalan. Ia ingat pesan almarhum ke teman-temannya agar tetap berteataer dan menghidupkan animo teater di Jogjakarta. "Jadi tetap menggairahkan Jogja ke kehidupan teater ini. Lebih ramai, lebih semarak, dan berkualitas," ungkapnya. (ayu/laz)