RADAR JOGJA - Hiruk pikuk Kota Magelang tak lepas dari keberadaan kawasan Pecinan. Sebuah kawasan di pusat kota yang kental dengan etnis Tionghoa. Menurut cerita, kawasan yang berada di Jalan Pemuda ini bermula dari adanya kekejaman Belanda atas Tionghoa. Yang disebut dengan peristiwa Geger Pecinan. Seperti apa ceritanya?
Kota Magelang dengan berbagai keindahannya mampu membuat seorang perantau, seperti penulis seolah terbius. Bagaimana tidak, kota dengan julukan Sejuta Bunga ini menyimpan kemajemukan. Lebih-lebih, kota kecil ini memiliki jejak dalam keberagaman dari berbagai suku bangsa.
Satu kawasan yang membuat kagum ialah Pecinan. Atau tepatnya berada di sisi timur Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Liong Hok Bio. Saat menyusuri kawasan tersebut, di sisi kanan-kiri jalan terdapat deretan ruko dengan gaya arsitektur lawas milik etnis Tionghoa.
Tata ruang kawasan, arsitektur bangunan, hingga lampu warna-warni yang menggantung di atas jalan, menjadi perpaduan yang apik. Bahkan suasananya menjadi sejuk dengan deretan pohon di sisi kiri jalan. Namun, di balik keindahannya, kawasan itu memiliki sejarah yang kelam.
Menurut cerita, lahirnya kawasan tersebut tidak lepas dari peristiwa Geger Pecinan di Batavia (Jakarta) pada 1740 silam. Kala itu, terjadi pembunuhan besar-besaran oleh pemerintah kolonial Belanda. Karena mereka menilai banyak warga Tionghoa yang pengangguran dan berpotensi menimbulkan kerusuhan.
Dari peristiwa itu, tercatat ada puluhan ribu warga Tionghoa yang meninggal. Sementara warga yang selamat dari pembantaian itu berusaha melarikan diri ke sejumlah wilayah. "Orang-orang Tionghoa itu pada akhirnya menyebar ke Tuban, Lasem, Semarang, Pekalongan, Surakarta, dan daerah lainnya di pesisir utara Jawa," jelas Pegiat Komunitas Kota Toea Magelang Bagus Priyana, Rabu (7/2).
Di Surakarta, pergolakan kembali terjadi. Gencatan senjata tidak terelakkan. Warga Tionghoa yang meminta tolong kepada Paku Buwana II (1726-1749) atau pemimpin Kasunanan Surakarta, harus menelan pil pahit karena pertempurannya kalah. Mereka pun menyelamatkan diri ke daerah Kutoarjo, Purworejo. Tepatnya bermukim di sebuah desa bernama Klangkang Jono.
Kendati begitu, konflik etnis Tionghoa dengan Belanda masih terjadi di tahun-tahun berikutnya. Saat Perang Diponegoro pecah pada 1825-1830, warga Tionghoa di Kutoarjo terpaksa harus meninggalkan wilayah tersebut. Demi keselamatan mereka.
Mereka menyelamatkan diri dengan menyusuri perbukitan Menoreh menuju ke Magelang. Bagus menyebut, ada satu sumber yang menyebut bahwa kelompok itu terbagi menjadi dua. Satu kelompok ke Magelang dan satu lainnya ke Parakan, Temanggung.
Hanya saja, berdasarkan buku The History of Java, sebelum mereka ke Magelang, rupanya sudah ada ratusan warga Tionghoa yang bermukim di sana. “Magelang punya beberapa distrik (kawedanaan). Pada 1815 ternyata sudah ada warga Tionghoa di Magelang karena tercatat sebagai pedagang dan petani,” jelasnya.
Di Magelang, mereka bermukim di sebuah kampung kecil bernama Ngarakan. Kini berada di Jalan Daha. Bagus melanjutkan, di Kampung Ngarakan tersebut, ada rumah kecil yang digunakan sebagai tempat bermukim warga Tionghoa. Di sana, ada patung dewa yang kerap diarak. Sehingga kampung itu diberi nama Ngarakan.
Selang beberapa tahun, Perang Diponegoro berakhir. Pemerintah Kolonial Belanda mengeluarkan Peraturan Wijkenstelsel. Peraturan tersebut memuat agar orang-orang keturunan Tionghoa bermukim di satu kawasan saja. Saat ini, kawasan tersebut dikenal dengan sebutan Pecinan.
Mereka hanya diperbolehkan membuka usaha di sana. Lantaran Pemerintah Belanda khawatir dan trauma akan terjadi Geger Pecinan lagi. Sehingga Pemerintah Belanda menerapkan tata kota sesuai kawasan hunian berbasis zonasi. Seperti Eropa, Asia Timur baik Arab maupun Tionghoa, dan pribumi.
Dengan begitu, warga Tionghoa tidak akan bersekutu dengan orang Jawa untuk melawan Belanda. Selain itu, penerapan tersebut guna memudahkan pengawasan atas penduduk dan segala permasalahannya.
Setelah menerbitkan peraturan itu, Pemerintah Belanda mengangkat Btjo Lock dari Surakarta sebagai pemimpin Tionghoa di Magelang. “Kalau orang Tionghoa mau bepergian ke luar area Pecinan, harus meminta surat izin kepada pimpinannya. Entah mau berdagang atau pergi ke manapun, harus punya surat itu,” kata Bagus.
Dari situ, Btjo Lock mendapatkan hak untuk mendirikan rumah gadai dan candu (getah kering berwarna cokelat untuk menimbulkan rasa ketagihan). Namun, ada aturan khusus bagi penikmat candu. Mereka hanya bisa menikmati candunya di area rumah tersebut. Demi memudahkan pengawasan.
Untuk mendirikan rumah gadai maupun candu pun, tidak sembarang orang bisa mengantongi izinnya. Setelah puluhan tahun, usaha itu laris manis dan Btjo Lock menjadi kaya raya. Dia pun memberikan sebidang tanahnya di sebelah utara Pecinan untuk dijadikan kelenteng pada 1964 yang diberi nama Liong Hok Bio.
Sekitar tahun 1930-an, aturan Wijkenstelsel berakhir. Warga Tionghoa bisa hidup bebas dan bepergian ke manapun. Kemajuan perekonomian etnis Tionghoa sangat cepat. Pecinan mulai penuh dengan ruko. Tidak hanya milik warga Tionghoa, tapi juga warga lain. Barang yang dijual bermacam-macam. Seperti kelontong, pakaian, dan lainnya.
Keberagaman bentuk ruko di kawasan itu menandakan bahwa warga keturunan Tionghoa di Kota Magelang bukanlah kelompok yang homogen. Melainkan dari berbagai latar belakang. Warga Tionghoa pun mulai menyebar di kawasan lain. Karena Pecinan semakin padat.
Kini, kawasan Pecinan menjadi wajah Kota Magelang dalam rona keberagaman. Satu di antaranya terlihat saat momentum perayaan Tahun Baru Imlek. Warga Tionghoa merayakannya di TITD Liong Hok Bio. Ada serangkaian kegiatan yang dilakukan. Mulai dari bakti sosial, pencucian patung dewa-dewi, hingga Cap Go Meh.
Rangkaian kegiatan itu tidak hanya ditujukan bagi warga Tionghoa saja. Tapi juga warga lain. Tak ayal, Hari Raya Imlek ini menjadi satu momentum yang dinanti dan disambut suka cita oleh warga Kota Magelang. “Bisa dikatakan, soal toleransi di Kota Magelang sudah dipupuk sejak dulu. Apalagi di pusat kota terdapat empat tempat ibadah yang berbeda,” lontarnya. (eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita