RADAR JOGJA - Simbol lain yang identic dengan perayaan Imlek adalah turunnya hujan. Yang berarti akan datangnya rezeki berlimpah. Namun dahulu, arti hujan tidak diartikan sebagai rezeki. Hal ini pun diungkapkan oleh Margo Mulyo, pengurus Klenteng Poncowinatan, Jogja.
Hujan saat Imlek, awalnya memiliki pertanda sebagai dimulainya musim cocok tanam. Namun seiring berjalannya waktu, artinya pun ikut bergeser.
Hal itu bebarengan dengan semakin sedikitnya masyarakat Tionghoa yang menjadi petani. "Dulu orang mau bercocok tanam di ladang kan yang diharapkan hujan, kalau panas mati semua. Awalnya seperti itu. Kalau sekarang kan dikaitkan dengan rezeki yang tidak melulu harta," katanya kepada Radar Jogja kemarin (9/2).
Dalam masyarakat keturunan Tionghoa, hujan merupakan sebuah pengharapan menatap tahun baru yang akan datang. Dengan begitu, rezeki menjadi lancar dan mudah berlimpah di tahun mendatang.
Meski demikian, diakuinya saat ini turunnya hujan mulai bergeser dan sulit diprediksi. Tidak ada perbedaan meski hujan saat ini turun maupun tidak ketika Imlek. Sebab kini, Imlek juga digunakan sebagai sarana kumpul keluarga. (rul/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita