RADAR JOGJA - Tahun Baru China juga identik dengan makanan khasnya. Seperti misoa dan kue keranjang yang disajikan dan dimakan bersama keluarga.
Seorang etnis Tionghoa Jimmy Sutanto mengatakan, misoa merupakan salah satu jenis makanan olahan mi. Biasanya menu ini dihidangkan pada saat pagi hari. "Dimakan bersama waktu pagi. Pagi menghormati orang tua dulu baru makan bersama," bebernya kemarin (7/2).
Ketua Perhimpunan Fu Qing Jogjakarta itu menjelaskan, sajian mi ini dianggap sebagai simbol umur panjang dan penangkal nasib buruk bagi orang Tionghoa. Misoa dikatakan memiliki kemampuan memperpanjang umur seseorang berkat filamennya yang panjang dan tipis.
"Itu melambangkan panjang umur. Memang warga Tionghoa wajib harus ada menu itu. Rasanya kayak bakmi tapi bahannya dari misoa putih," ujarnya.
Menu itu disebut wajib dihidangkan pada hari pertama tahun baru Imlek. Dan hari-hari berikutnya bebas menghidangkan menu-menu lainnya.
Bahan-bahan yang diperlukan pun disebut mudah didapatkan. Serta waktu dan pengerjaan yang terbilang cepat dan mudah. Misoa disajikan dengan menu pendukung lainnya.
Selain menu utama mi, ada pula daging ayam, sayur bunga kincam, jamur kuping hitam, serta semacam rumput laut hitam sebagai pelengkap.
Selain itu, kue keranjang juga tidak dipisahkan dari Tahun Baru China. Kue yang juga disebut nian gao ini justru tersimpan kisah pahit dalam sejarah penemuannya. Masa itu, Tiongkok dialiri oleh dua sungai besar yaitu Sungai Yangtze dan Sungai Huang He atau dikenal dengan Sungai Kuning. Wilayah yang dialiri kedua sungai tersebut selalu dilanda banjir di setiap musim semi tiba karena salju mencair dan mengakibatkan air sungai meluap.
Bajir yang berlangsung cukup lama, mendorong masyarakat sekitar untuk membuat makanan tahan lama. Dengan bahan dari campuran beras ketan dan gula yang dikenal dengan sebutan kue keranjang. "Bisa untuk membantu kekurangan makanan, bulat merupakan simbol dari kebersamaan lalu berlangsung terus sampai ribuan tahun," ujarnya.
Adapun nama kue keranjang didapat dari cetakannya yang terbuat dari semacam keranjang dan dibungkus daun. Meskipun kini alumunium telah menggantikan keranjang untuk mencetak kue yang mirip jenang dodol itu, masyarakat tetap menyebutnya dengan kue keranjang.
"Tidak pakai pengawet, komposisinya gula 50 persen dan tepung ketan itu sendiri menjamin awet dan tahan lama," jelas Jimmy yang juga produsen kue keranjang. (wia/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita