RADAR JOGJA - Bagi masyarakat tradisional Jawa, mungkin sudah akrab dengan yang namanya tajin. Air dari hasil rebusan beras itu dipercaya memiliki khasiat untuk bayi dan disebut mampu menggantikan peran susu formula. Ahli gizi dari Universitas Aisyiyah (Unisa) Jogjakarta pun membeberkan kebenarannya.
Dosen Prodi Gizi, Fakultas Ilmu Kesehatan Unisa Khoirun Nisa Alfitri mengatakan, beras merupakan sumber karbohidrat. Sehingga air tajin dipastikan juga memiliki kandungan yang berperan sebagai sumber energi tersebut.
Namun selain itu, dalam air tajin juga memiliki kandungan zat gizi lain. Di antaranya protein, lemak, dan beberapa vitamin yang larut dalam air. Seperti vitamin B1, B2, dan B3, beberapa asam amino, serta mengandung beberapa mineral seperti zinc, natrium dan kalium.
Menurut Nisa, salah satu kandungan zat gizi dalam air beras adalah pati. Zat tersebut dikenal memiliki khasiat untuk membantu mengatasi masalah pencernaan seperti diare dan konstipasi atau sembelit.
"Dengan mengonsumsi air tajin dapat membantu meringankan ketidaknyamanan saluran pencernaan dan membuat jumlah mikroba lebih stabil," ujarnya kepada Radar Jogja, Jumat (26/1).
Lebih lanjut dikatakan, tajin pun dapat berperan untuk rehidrasi oral. Hal ini karena air tajin memiliki kandungan elektrolit yang alami. Elektrolit ini mampu memulihkan kehilangan cairan dan mineral yang hilang.
Bahkan dalam suatu penelitian di tahun 2018 menunjukkan bahwa air tajin dapat menjadi alternatif terapi rehidrasi oral pada demam berdarah dengue (DBD).
Di samping itu, air tajin juga kerap digunakan sebagai tambahan dalam makanan pendamping ASI (MP-ASI). Bahkan tidak jarang pula air tajin sering digunakan sebagai minuman pengganti ASI. Lantaran dinilai lebih murah dibandingkan susu formula.
Namun Nisa memastikan, kalau hal itu tidak dapat dibenarkan. Sebab air tajin baru dapat diberikan pada bayi di atas usia 6 bulan sebagai pelengkap MP-ASI. Dikarenakan air tajin mengandung karbohidrat sebagai sumber energi. Sehingga dapat meningkatkan asupan kalori pada bayi.
"Air tajin juga dipercaya dapat membantu menghaluskan kulit. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa air beras memiliki sifat antioksidan yang memiliki efek antipenuaan pada kulit dalam jangka panjang,” katanya.
Meski memiliki banyak manfaat, air tajin tidak boleh dikonsumsi berlebihan. Terutama pada anak-anak dan balita. Pada bayi yang masih menyusu pun, konsumsi air tajin yang berlebihan dapat mengurangi asupan ASI, karena bayi akan merasa kenyang dan tidak haus.
Nisa juga menjelaskan, air tajin juga memiliki kandungan gizi yang tidak selengkap beras. Jika dibandingkan dengan beras utuh, air tajin kurang mengandung serat, vitamin larut lemak seperti vitamin A, dan beberapa protein dalam beras tidak ada dalam air tajin.
“Sehingga air tajin tidak dapat menggantikan sumber karbohidrat. Kita tetap harus mengonsumsi makanan yang beragam,” terangnya.
Dia pun menyatakan, badan pengawas obat dan makanan Amerika Serikat menyebut, beras mungkin mengandung sejumlah zat arsenic organic. Dalam sebuah penelitian, zat arsenic organic dikaitkan dengan defisit neurokognitif pada bayi dan anak.
"Konsumsi air tajin juga perlu diperhatikan apabila seseorang memiliki alergi terhadap beras. Meskipun beras adalah bahan pangan yang hipoalergenik, telah dilaporkan ada beberapa kasus alergi beras," ungkap Nisa. (inu/laz)
Editor : Satria Pradika