RADAR JOGJA - Transportasi publik becak masih menjadi pilihan di tengah euforia alat transportasi umum berbasis online. Meski jumlahnya menurun, banyak tukang becak yang memilih bertahan untuk mengais rezeki dari keringat mengayuh becak.
Jika diperhatikan, becak Jogja memiliki keunikan. Salah satunya di bagian selebor (slebor) yang sering dihiasi aneka lukisan. Gambar-gambar di slebor becak beraneka ragam, mulai pegunungan, persawahan dan lainnya.
Salah satu orang yang berperan dalam dunia lukis slebor becak adalah Mbah Tjipto atau bernama lengkap Tjipto Setiono. Namun, Mbah Tjipto saat ini sudah tiada di usianya yang ke-70 tahun sejak masa Covid-19 lalu.
Seorang pelukis Samuel Indratma mengenang masa jayanya Mbah Tjipto di era 70-an yang juga tahu akan karya-karyanya. Dia mengatakan, lukisan slebor becak itu sejatinya memiliki cerita sesuai latar belakang tukang becak masing-masing.
"Tukang becak yang dari latar belakang dekat pantai, mereka akan melukiskan slebor becak tema-tema yang dekat pantai, ada kapal kecil. Kalau latar belakang petani, mereka akan minta gambar penuh dengan sawah-sawah. Bisa memilih teks sebagI simbol semangat," ungkapnya kepada Radar Jogja Jumat (29/12).
Samuel menjelaskan, antara tukang becak dengan pelukis slebor mereka saling mengenal dengan Mbah Tjipto dan telah menjadi langganan mereka sejak tahun 70-an hingga 2000-an. Mbah Tjip selain memiliki keahlian melukis, juga memperbaiki becak sekaligus tenda becak. "Dari situ Mbah Tjip survive dan bisa mandiri," ujarnya.
Mbah Tjipto dikenal orang sederhana, bekerja tangkas, rapi, dan banyak orang suka dengan karyanya. Dia tergugah bahwa Mbah Tjip memiliki peran penting dalam sejarah transportasi kota. Karena ini menjadi bagian dari sejarah dan peradaban kota. Dan, becak sudah menjadi ikonik Jogja.
"Sebagai seniman yang melihat proses kerja Mbah Tjip, yang menarik gambarnya presisi kanan kiri. Kanan kiri dilihat kok presisi baik, membuat gambar presisi yang bolak balik," jelasnya.
Menurutnya, kesulitan-kesulitan melukis di media slebor becak yang terbilang cembung ketika ditanyakan ke mendiang Mbah Tjip, itu bukan sebagai sebuah kesulitan. Karena itu biasa dilakukan dan setiap hari.
Maka melihat keunikan dan karya yang dilakukan Mbah Tjipto itu, dia pernah mengajak mendiang turut dalam pameran Biennale Jogja di luar ruangan atau ruang publik, salah satunya di Titik Nol Km Jogja. Ada sekitar 100 unit slebor becak dipamerkan, disatukan dalam sebuah museum. Dan dipamerkan di luar ruangan.
Motivasinya karena seiring waktu keberadaan becak semakin berkurang atau menyusut karena adanya taksi atau kendaraan pribadi. Project tersebut dilakukan untuk mengingatkan kembali akan keberadaan becak tradisional sekitar 2010 silam.
"Sebagai seniman, saya pikir ingin mengajak orang mengingat kembali ada orang-orang penting di sini yang pernah menghiasi kota. Dan pemandangan jalan-jalan perkotaan Jogja di medium slebor," tambahnya. (wia/laz)
Editor : Heru Pratomo