RADAR JOGJA - Becak di jalanan Jogja punya kekhasan tersendiri. Di slebornya kanan-kiri yang cembung itu dicat dengan aneka lukisan. Kebanyakan pemandangan alam Indonesia, mulai pantai, pegunungan maupun persawahan.
Salah seorang penarik becak kayuh asal Nitipyaran, Bantul, Soponyono mengaku pada tahun 1970-an lalu melukiskan slebor becaknya. Hal itu dilakukan untuk memperindah tampilan. "Ya, kalau ada lukisannya itu ya bagus. Karena ada pemandangannya," ujarnya saat ditemui Radar Jogja, Jumat (29/12).
Menurut pria berusia 75 tahun ini, becak yang ada lukisannya jelas sangat berpengaruh ketimbang dengan yang polosan. Karena menurutnya, dengan adanya lukisan itu bisa menarik hati para penumpang untuk menaiki becaknya.
"Biasanya kan kalau ada penumpang yang mengajak anak kecil itu mereka maunya naik yang ada gambarnya," katanya.
Soponyono mengatakan kebanyakan lukisan di slebor becak adalah gambar pemandangan dan tidak ada motif lain. Ia menyebut gambar gunung atan laut.
Walaupun dirasa bisa menarik pelanggan dengan adanya lukisan di slebor becaknya, ia yang sering mangkal di lampu merah Bugisan, ini memilih kini tidak melukisi becaknya. Alasanya karena harus mengeluarkan modal yang cukup banyak.
"Saat ini kalau mau melukiskan, harganya bisa mencapai Rp 300 ribu. Kalau dulu cuman Rp 70 ribu saja sudah oke, komplet semua. Kalau saat ini para tukang becak mending uangnya dibuat untuk makan," katanya.
Menurut Soponyono, saat ini kebanyakan becak tidak ada lukisannya. Karena sudah tidak ada yang membuka jasa lukis becak. "Kalau dulu ada sendiri tempatnya dan tukang untuk melukiskan itu," ungkapnya.
Sebenarnya Soponyono ingin sekali melukisakan becaknya. Namun ia lebih memilih becaknya polosan saja, karena kini dirasa sangat sepi penumpang.
"Dulu kami nggleleng. Pendapatan kami bisa ngalahin PNS. Tapi sekarang sepi. Daripada untuk melukiskan becak, mending uangnya untuk makan," tandasnya. (ayu/laz)