RADAR JOGJA - Mendekati Pemilu 2024 ini, di berbagai sudut kota terpasang banyak sekali spanduk, baliho maupun banner dari parpol, caleg maupun capres-cawapres. Bisa dikatakan semuanya sudah dalam bentuk cetakan digital. Jelas ini berbeda dengan jadul atau zaman dulu yang pengerjaannya dilakukan secara manual.
Untuk spanduk lawasan misalnya, proses pembuatannya dulu berbeda sekali dengan sekarang. Melalui proses atau tahahan yang panjang. Bahannya juga beda. Spanduk dulu mengandalkan bahan dasar berupa kain, seperti halnya spanduk "pecel lele" yang kini masih menggunakannya.
Salah seorang pekerja seni asal Jogja, Awis Citra mengaku dulu sewaktu kuliah ia sering menggunakan spanduk lawasan ini untuk publikasi acara kesenian. Seperti pameran seni rupa.
"Dulu saat mahasiswa sering membuat publikasi dengan menggunakan spanduk yang bisa digambari. Seperti model spanduk pecel lele itu," ujarnya saat ditemui Radar Jogja (22/12).
Menurut Awis, kenapa dulu memakai bahan spanduk kain untuk publikasi karena spanduk kain itu memiliki harga yang sangat ekonomis atau murah untuk zaman dia semasa kuliah. "Ya, dibanding dengan spanduk printing atau banner, itu lebih murah banget dengan spanduk kain," katanya.
Awis menilai, secara bahan spanduk kain dinilai awet, bisa bertahan hingga bertahun-tahun jika hanya untuk sekadar digunakan sebagai sarana publikasi saja. Sedangkan jika bahan banner plastik, maka kalau kena hujan dan panas bisa luntur atau gampang robek.
Dibanding dengan bahan banner plastik printing, spanduk kain memang lebih mahal. Namun secara kualitas, spanduk kain lebih bagus dibanding dengan banner plastik printing. "Ya, secara kualitas menurut saya lebih bagus yang spanduk kain," ungkapnya.
Awis mengatakan kalau seseorang menyablon di kain, gambarnya lebih tajam dibading menyablon di bahan plastik. Ia menyebut risiko memasang publikasi dengan menggunakan spanduk kain lebih sedikit. Sebab, jika terkena angin bahan kain lebih bisa fleksibel dibanding dengan yang berbahan plastik.
"Kan kalau kain sirkulasi udaranya lebih leluasa dibanding plastik. Maka potensi jatuhnya juga lebih sedikit," jelasnya.
Ketikan dipasang pun, bahan kain bisa lebih ringkas, efisien, dan tidak memakan biaya yang banyak dibanding bahan banner plastik.
Awis menyebut, spanduk berbahan kain itu ketika tidak digunakan lagi bisa didaur ulang menjadi barang yang baru. Dibanding spanduk berbahan plastik atau banner.
"Ketika kami menggunakan bahan plastik, bisa membuahkan sampah yang diurai lebih lama dibanding kain. Ketika kami pakai kain untuk publikasi, saat tidak digunakan lagi bahanya bisa dibuat kerajinan baru lagi. Dan kegunaanya kan tidak semata-mata untuk spanduk saja," tandasnya.
Sementara itu, spanduk lawasan saat ini masih digunakan untuk sejumlah keperluan. Salah satunya sebagai dekorasi di beberapa pementasan seni. Salah seorang pekerja seni, Imanuel Kristanto mengungkapkan, dirinya masih menggunakan spanduk lawas untuk berbagai keperluan seni. Seperti untuk dekorasi pementasan seni dan syuting video klip.
"Masih sering pakai untuk keperluan itu. Biasanya pakai beberapa spanduk saat untuk keperluan," ujarnya (22/12). Kris, sapaannya, memilih menggunakan spanduk lawasan karena bentuknya yang luwes dan tidak kaku.
Berbeda dengan banner. Kelebihan lain adalah jika semakin dicuci teksturnya akan semakin halus. Sementara untuk banner, jika dicuci semakin lama semakin pecah. "Yang spanduk lawas enak untuk dibentuk-bentuk, murah juga harganya kalau kain,” kata Kris.
Menurutnya, spanduk lawas yang terbuat dari kain itu lebih awet. Ia sendiri telah menggunakannya lebih dari lima tahun. Koleksi yang dimiliki pun beragam. Ada belasan jumlahnya. Masing-masing berukuran puluhan meter.
Spanduk yang dimiliki juga polosan, tidak ada tulisannya. Namun ada berbagai macam warna. "Beli di beberapa toko kain di Jogja, harganya murah, mungkin puluhan ribu saja per meter,” jelasnya. (ayu/tyo/laz)